Sering Datang On Time, Pulang Teng Go? Lebih Sehat Mental?

  • 27 Jun 2026 14:42 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - "Jam 8 udah nongol di kantor, jam 5 langsung tenggo" Kedengarannya egois? Padahal ada sains di baliknya.

Banyak perusahaan masih mengukur loyalitas dari “siapa paling lama di kantor”. Padahal penelitian modern bilang kebalikannya: orang yang datang on time dan pulang tenggo cenderung lebih produktif dan sehat mental.

Ini penjelasan ilmiahnya:

1. Prinsip Parkinson’s Law: "Kerjaan Mengembang Sesuai Waktu yang Disediakan"

Ilmu Psikologi Produktivitas bilang:

“Work expands to fill the time available for its completion” – Cyril Northcote Parkinson

Artinya: Kalau kamu dikasih waktu 10 jam buat kerjaan 8 jam, maka kerjaan itu akan terasa butuh 10 jam.

Dampaknya ke Tenggo:

Orang yang terbiasa pulang jam 7 malam, tanpa sadar jadi kerja lebih santai jam 9-5. Karena mikir: “toh masih ada waktu lembur”.

Sebaliknya, orang yang punya batasan “jam 5 harus pulang”, otaknya dipaksa fokus. Tugas yang sama bisa beres dalam 8 jam. Ini namanya Timeboxing dan terbukti meningkatkan efisiensi sampai 40%.

2. Circadian Rhythm: Otak Punya "Jam Produktif"

Ilmu Biologi & Neuroscience menjelaskan: Otak manusia punya ritme sirkadian.

Rata-rata orang paling fokus jam 9-11 pagi dan jam 2-4 sore. Setelah jam 5 sore, kemampuan kognitif, pengambilan keputusan, dan kreativitas mulai turun drastis.

Dampaknya ke Tenggo:

Maksa lembur sampai jam 8 malam = hasilnya kualitasnya jelek. Banyak typo, keputusan impulsif, kerjaan harus diulang besok.

Lebih baik pulang jam 5, istirahat, lalu besok otak fresh. Daripada lembur 3 jam dengan otak “low battery”.

3. Recovery Theory: Otak Butuh "Jeda" untuk Performa Maksimal

Ilmu Psikologi Kerja dari University of Illinois: Otak itu seperti otot. Kalau dipakai terus tanpa istirahat, akan “overuse injury”.

Ada 3 jenis recovery yang hilang kalau nggak tenggo:

  1. Psychological Detachment: Melepas pikiran dari kerjaan. Kalau bawa laptop pulang, otak nggak pernah beneran “off”.
  2. Relaxation: Aktivitas rendah stres seperti nonton, masak, nongkrong.
  3. Mastery: Belajar hal baru di luar kerja biar nggak jenuh.

Hasilnya: Karyawan yang pulang tepat waktu punya risiko burnout 23% lebih rendah dan kepuasan kerja lebih tinggi.

4. Efek "Present Bias" di Kantor: Salah Kaprah Soal Loyalitas

Ilmu Behavioral Economics bilang manusia suka bias visual. Atasan lebih gampang lihat “orang yang masih di meja jam 7 malam” daripada “orang yang kerja cepat beres jam 4 sore”.

Ini disebut Visibility Bias. Yang kelihatan lembur = dianggap pekerja keras. Padahal bisa jadi dia cuma nggak efisien.

Orang yang tenggo sering kena stigma, padahal secara output dia bisa lebih tinggi.

5. Data: Jam Kerja Panjang ≠ Produktivitas Tinggi

Riset OECD dan ILO konsisten:

Jam Kerja/Minggu | Produktivitas per Jam

35-40 jam | Paling tinggi

50 jam | Turun 25%

60 jam+ | Turun 40% dan rawan error

Artinya: Kerja 60 jam belum tentu hasil 2x lipat dari kerja 40 jam. Malah bisa lebih sedikit karena banyak kesalahan.

Jadi, Salahkah Sering On Time dan Pulang Tenggo?

Tidak. Secara ilmiah itu justru optimal.

Syaratnya 1: Kerjaan harus beres dan berkualitas.

Tenggo bukan alasan untuk kabur dari tanggung jawab. Tenggo adalah hasil dari manajemen waktu yang baik di jam kerja.

Rumus Ilmiah Tenggo yang Sehat:

Produktivitas Tinggi = Fokus Penuh 8 Jam + Istirahat Cukup 16 Jam

Bukan:

Produktivitas Tinggi = Duduk 12 Jam + Otak Setengah Mati

Kesimpulan

Datang on time menunjukkan disiplin.

Pulang tenggo menunjukkan kamu paham batasan dan manajemen energi.

Perusahaan modern sudah bergeser: dari menghitung “jam duduk” menjadi menghitung “hasil kerja”.

Jadi next time ada yang nyinyir “kok udah pulang?”, jawab dalam hati: “Karena sains bilang, gini caranya kerja paling efektif”.

Teng. Go. Pulang dengan kepala tegak.

Menurut Anda, kantor di Indonesia sudah siap menerapkan budaya kerja berbasis hasil, bukan jam?

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....