Konsep Memberi Tanpa adanya Imbalan Materi dalam Teori Pertukaran Sosial
- 27 Jun 2026 07:26 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Teori Pertukaran Sosial atau Social Exchange Theory dari George Homans, Peter Blau, dan Thibaut-Kelley sering disalahpahami sebagai teori "pelit" yang menganggap semua hubungan manusia adalah transaksi jual-beli.
Padahal inti teori ini lebih dalam: manusia akan mempertahankan hubungan selama, menurut perhitungan subjektifnya, ia merasa "untung". Kata kuncinya ada di "perhitungan subjektif" dan "untung". Karena "untung" dalam SET tidak selalu berarti uang, barang, atau jasa yang bisa ditagih.
Lalu bagaimana SET menjelaskan fenomena orang yang selalu memberi, berkorban, atau menolong tanpa pernah mendapat balasan materi yang setara? Justru SET bisa menjelaskan dengan sangat rapi lewat 3 konsep berikut:
1. Konsep Reward: Mata Uang Pertukaran Tidak Hanya Materi, Tapi Juga Psikologis
Homans dan Blau sama-sama menekankan bahwa "reward" atau ganjaran dalam pertukaran sosial bentuknya sangat luas. Kalau dalam ekonomi reward = uang, maka dalam sosial reward bisa berupa hal-hal non-materi yang justru lebih berharga bagi sebagian orang.
Orang yang "selalu memberi" sebenarnya tetap sedang menerima untung, hanya saja mata uangnya berbeda:
- Reward Internal atau Psikologis: Ini ganjaran paling utama. Bentuknya rasa puas, tenang, bangga, atau "damai di hati" setelah menolong orang. Bagi sebagian orang, nilai ini lebih tinggi dari uang.
Mereka merasa hidupnya selaras dengan identitas diri: "Aku ini orangnya dermawan", "Aku nggak tega lihat orang susah". Ketika memberi, mereka sedang membayar tagihan ke "bank harga diri" mereka sendiri. Rasa tidak memberi justru terasa seperti rugi besar secara psikologis. - Reward Simbolik atau Sosial: Memberi terus-menerus akan menaikkan status sosial pemberi. Ia dianggap tokoh, sesepuh, panutan, atau "orang baik" di komunitasnya. Ia dapat penghormatan, disebut dalam doa, diundang di acara-acara penting, atau dimintai pendapat. Status ini adalah mata uang sosial yang bisa ditukar jadi akses, kepercayaan, atau pengaruh di masa depan.
Reward Emosional: Ada kepuasan tersendiri saat melihat ekspresi bahagia orang yang ditolong. Senyum anak murid, ucapan terima kasih tulus, atau rasa bangga melihat orang yang dibina akhirnya berhasil. Bagi pemberi, melihat hasil itu adalah ganjaran emosional yang tidak bisa dibeli.
Jadi dari luar neraca pertukarannya kelihatan timpang: ia memberi 100, orang lain balas 10. Tapi di neraca psikologisnya: ia memberi 100, ia terima 150 berupa makna, status, dan ketenangan batin. Maka wajar kalau ia lanjut memberi.
2. Prinsip Resiprositas Umum vs Resiprositas Langsung
Peter Blau membedakan 2 jenis pertukaran untuk menjelaskan ini:
Pertukaran EkonomiPertukaran SosialBalasan langsung, spesifik, bisa ditagihBalasan tidak langsung, tidak spesifik, tidak ditagihContoh: Beli cilok 5 ribu, bayar 5 ribuContoh: Bantu tetangga pindah rumahHubungan berhenti setelah bayarHubungan justru menguat setelah diberi
Orang yang selalu memberi tanpa minta balasan biasanya bermain di level social exchange. Ia tidak menuntut si A yang ia bantu harus membalas. Ia sadar balasan bisa datang dari arah lain: dari si B yang lihat kebaikannya lalu kasih peluang kerja, dari sistem sosial berupa reputasi baik, atau dari Tuhan berupa "berkah".
Karena tidak ada tenggat dan tidak ada tagihan, maka hubungan tidak putus meski tidak "balik modal" 1 banding 1. Inilah kenapa gotong-royong, sedekah, dan pengabdian bisa jalan terus.
3. Konsep Comparison Level dan Comparison Level of Alternatives
Thibaut & Kelley menambahkan alat ukur keputusan: kita bertahan di hubungan karena membandingkannya dengan 2 standar.
- CL - Comparison Level: Standar harapan pribadi. "Hubungan seperti ini seharusnya ngasih aku apa?". Orang yang betah memberi tanpa balasan materi biasanya punya CL yang rendah untuk aspek materi. Standarnya bukan "aku harus digaji besar", tapi "asal aku merasa berguna, hidupku ada artinya, itu sudah cukup". Karena standarnya rendah, maka sedikit reward psikologis saja sudah dianggap "melebihi harapan".
- CLalt - Comparison Level of Alternatives: Standar pembanding pilihan lain. "Kalau aku berhenti memberi, ada aktivitas lain yang lebih menguntungkan nggak?". Banyak orang yang terus mengajar gratis, jadi relawan, atau mengurus komunitas karena secara psikologis mereka merasa tidak ada alternatif lain yang memberi kepuasan sebesar itu.
Kalau ia berhenti dan kerja kantoran dengan gaji besar, ia malah merasa kosong dan kehilangan makna. Jadi meski secara materi ia "rugi", secara psikologis CLalt-nya rendah. Tidak ada opsi lain yang lebih "untung".
Contoh Konkret Biar NyambungAmbil contoh guru honorer di desa yang mengajar gratis selama 10 tahun. Secara materi ia rugi: gaji kecil, tidak ada murid yang membalikkan uang. Tapi dari kacamata SET ia tetap "untung" karena:
- Reward psikologis: Ia dapat kepuasan luar biasa setiap kali muridnya lulus dan sukses. Hidupnya terasa bermakna.
- Reward sosial: Ia disegani warga, jadi rujukan kalau ada masalah, statusnya naik dari "siapa-siapa" jadi "Pak Guru".
- CLalt rendah: Kalau ia berhenti mengajar lalu kerja pabrik, gajinya naik tapi ia kehilangan rasa "berarti" yang tidak bisa dibeli pabrik.
Kesimpulan
Teori Pertukaran Sosial tidak pernah mewajibkan imbalan materi harus setara. Rumus dasarnya sederhana: Selama Total Reward - Total Cost > 0 di mata orang itu, maka ia akan lanjut berinteraksi. Bagi orang yang selalu memberi, "reward" terbesarnya bukan rupiah, tetapi makna, identitas, status, dan ketenangan batin.
Selama mata uang psikologis itu terus mengalir dan ia tidak menemukan alternatif yang lebih memuaskan, maka ia akan tetap berada di hubungan "memberi" itu.
Intinya: Dalam dunia sosial, tidak semua neraca dihitung pakai kalkulator. Ada neraca yang dihitung pakai hati. Dan selama hati merasa untung, tangan akan terus memberi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....