Benarkah Gen Z Susah Diatur? Bongkar Mitos dan Faktanya

  • 22 Jun 2026 13:49 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - “Anak sekarang susah diatur, dikasih tahu malah ngeyel” - kalimat ini sering muncul di kantor, kampus, bahkan di rumah.

Tuduhan “Gen Z susah diatur” sudah seperti stempel. Tapi benarkah demikian? Atau sebenarnya cara “mengatur” yang dulu dipakai sudah tidak relevan lagi?

Mari bongkar tuntas pakai logika, bukan emosi.

1. Dulu vs Sekarang: Definisi “Diatur” Sudah Berubah

Inilah akar salah paham terbesar.

Generasi Boomer & X:

“Diatur” = patuh, tidak banyak tanya, kerjakan perintah atasan. Hierarki jelas: atasan selalu benar, bawahan tinggal laksanakan. Bertanya = kurang ajar. Membantah = tidak sopan.

Gen Z:

“Diatur” = diberi tujuan jelas + alasan logis + ruang untuk berpendapat. Hierarki tetap ada, tapi sifatnya kolaboratif, bukan komando.

Jadi Gen Z bukan “susah diatur”. Gen Z “susah diatur dengan cara lama”. Kalau perintahnya hanya “Kerjakan ini karena saya bilang begitu”, wajar Gen Z bertanya “Kenapa? Tujuannya apa?”.

Bukan ngeyel. Itu cara mereka memahami dan memastikan kerjaannya berdampak.

2. 5 Alasan Kenapa Gen Z “Kelihatan” Susah Diatur

1. Tumbuh dengan Akses Informasi Tanpa Batas

Gen Z lahir bersama Google, YouTube, ChatGPT. Apa saja bisa dicek 5 detik.

Saat disuruh cara A, Gen Z bisa langsung cari: “Ada cara B, C yang lebih cepat tidak?”. Lalu bertanya ke atasan.

Bagi generasi sebelumnya ini dianggap “ngebantah”. Bagi Gen Z ini logis: kenapa pakai cara lama kalau ada cara lebih efisien?

2. Menghargai Alasan, Bukan Hanya Perintah

Gen Z butuh “why” sebelum “what”. Otak mereka dilatih berpikir kritis sejak sekolah.

Kasih tugas tanpa konteks = Gen Z akan diam tapi setengah hati. Kasih tugas + jelaskan tujuannya untuk apa, dampaknya ke tim apa = Gen Z akan all out.

Mereka tidak butuh dimanja. Mereka butuh diajak berpikir.

3. Menolak Budaya Toxic: “Lembur = Loyal”

Gen Z melihat seniornya kerja 12 jam/hari, sakit-sakitan, tapi tetap tidak dihargai. Mereka belajar: kesehatan mental dan work-life balance itu non-negotiable.

Jadi saat diminta lembur tanpa alasan jelas, Gen Z berani menolak. Bukan malas. Tapi mereka memilih menjaga batasan agar tidak burnout. Bagi sebagian orang ini disebut “susah diatur”.

4. Nilai Keadilan & Keterbukaan Sangat Tinggi

Gen Z sangat sensitif pada ketidakadilan. Aturan diterapkan tebang pilih? Atasan melanggar aturan yang dibuat sendiri? Gen Z akan bersuara.

Mereka tidak takut bicara walau lawan bicara lebih senior. Bagi mereka, menghormati orang = menghormati ide dan perbuatannya, bukan hanya umurnya.

5. Mengutamakan Makna daripada Status

“Kerja di BUMN, gaji kecil tapi aman” dulu dianggap pilihan terbaik.

Gen Z akan bertanya balik: “Aman, tapi apakah pekerjaan ini membuat saya bertumbuh? Apakah ada maknanya?”

Kalau jawabannya tidak, Gen Z lebih memilih resign dan mulai usaha kecil. Pindah kerja bukan karena tidak loyal, tapi karena mencari tempat yang nilainya selaras.

3. Jadi, Gen Z Susah Diatur atau Mudah Dipimpin?

Jawabannya: Gen Z susah “diperintah”, tapi sangat mudah “dipimpin”.

Perintah = “Kerjakan ini, titik”. Hasilnya: dikerjakan asal-asalan.

Kepemimpinan = “Targetnya ini, masalahnya ini, ayo pecahkan bareng. Kamu punya ide?”. Hasilnya: Gen Z akan mengeluarkan semua kreativitasnya.

Ciri pemimpin yang disukai Gen Z:

  1. Transparan: Jelaskan tujuan besar perusahaan, jangan hanya kasih SOP.
  2. Memberi Kepercayaan: Kasih target, lalu beri ruang cara mengerjakannya. Jangan mikro-manage tiap 1 jam.
  3. Mendengarkan: Gen Z akan loyal ke pemimpin yang mau dengar ide, kritik, dan keluhannya tanpa menghakimi.
  4. Konsisten: Aturan untuk semua orang sama. Tidak ada “anak emas”.

4. Kalau Gen Z “Susah Diatur”, Apa Untungnya?

Justru sifat ini banyak manfaatnya untuk masa depan:

  1. Mendorong Inovasi: Karena berani bertanya “kenapa tidak begini?”, banyak proses kerja jadi lebih efisien.
  2. Mencegah Budaya Asal Bapak Senang: Tidak ada yang diam saat ada keputusan salah hanya karena “takut ke atasan”.
  3. Membangun Tim yang Sehat: Gen Z memaksa terciptanya budaya kerja yang lebih manusiawi: menghargai waktu, menghargai batasan, menghargai kesehatan mental.

Kesimpulan

Jadi, benarkah Gen Z susah diatur?

Tidak. Gen Z hanya tidak bisa diatur dengan sistem komando era 90-an.

Gen Z bisa sangat disiplin, sangat loyal, dan sangat produktif. Syaratnya: perlakukan mereka sebagai partner berpikir, bukan robot pelaksana.

Dulu orang tua bilang ke anak: “Kamu nurut saja”.

Sekarang pemimpin yang cerdas bilang ke Gen Z: “Ini masalahnya, bagaimana kita menyelesaikannya bersama?”

Ganti cara memimpin, maka label “susah diatur” akan hilang dengan sendirinya. Yang tersisa adalah generasi yang sangat bisa diandalkan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....