Risiko Dibalik "Laki-laki Tidak Bercerita"

  • 14 Jun 2026 22:36 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Fenomena "laki-laki tidak bercerita" sering dianggap sebagai bagian dari karakter pria yang cenderung pendiam. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan memendam masalah dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental.

Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya risiko bunuh diri pada laki-laki. Menurut laporan World Health Organization (WHO), laki-laki lebih jarang mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental dan memiliki angka bunuh diri yang lebih tinggi dibandingkan perempuan.

WHO menjelaskan bahwa salah satu penyebab kondisi tersebut adalah norma maskulinitas yang dibentuk oleh lingkungan sosial dan budaya. Sejak kecil, banyak laki-laki diajarkan untuk menjadi kuat, mandiri, dan tidak menunjukkan kelemahan.

Akibat dari pola pikir tersebut, banyak pria merasa harus menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Mereka sering menghindari mencari bantuan karena khawatir dianggap lemah atau tidak mampu menghadapi kesulitan hidup.

Budaya yang menekankan kemandirian berlebihan juga dapat menimbulkan stigma terhadap keterbukaan emosional. Banyak laki-laki merasa tidak nyaman mengungkapkan kesedihan, kecemasan, atau depresi yang mereka alami kepada orang lain.

Selain itu, kesulitan dalam mengenali dan mengekspresikan emosi menjadi hambatan yang sering ditemukan pada laki-laki. Ketika mengalami tekanan psikologis, mereka lebih sering menarik diri, meluapkan kemarahan, atau menyembunyikan perasaannya daripada membicarakan masalah yang sedang dihadapi.

Kondisi ini berbahaya karena masalah kesehatan mental yang tidak ditangani cenderung semakin memburuk seiring waktu. Perasaan putus asa yang terus menumpuk dapat meningkatkan risiko munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup, terutama ketika seseorang merasa tidak memiliki dukungan yang memadai.

Meskipun demikian, WHO menegaskan bahwa laki-laki tetap mampu menunjukkan kerentanan dan mencari bantuan ketika berada di lingkungan yang aman dan dipercaya. Oleh karena itu, membangun budaya yang mendukung keterbukaan emosi dan mendorong pencarian bantuan merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan mental laki-laki serta mengurangi risiko bunuh diri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....