Dipimpin Roh Kudus Menjadi 100% Katolik, 100% Indonesia
- 26 Mei 2026 18:33 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID,Mamuju- Hari Raya Pentakosta menjadi momentum penting bagi umat Katolik untuk memperbarui semangat persatuan dan cinta tanah air. Melalui momentum ini umat diajak menghidupi iman sekaligus merawat kebangsaan di tengah keberagaman Indonesia.
Dalam Mimbar Agama Katolik yang disiarkan RRI Pro 1 Mamuju, Minggu (24/5/2026), Penyuluh Agama Katolik Kemenag Sulbar, Yakobus Tappe Kalua, membawakan refleksi Kitab Suci Kisah Para Rasul 2:1-11 tentang peristiwa Pentakosta. Ia menegaskan bahwa Roh Kudus hadir bukan untuk menyeragamkan manusia, melainkan mempersatukan keberagaman dalam kasih.
“Roh Kudus tidak menghapus identitas bangsa dan budaya seseorang. Menjadi Katolik tidak berarti kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia,” ungkap Yakobus.
Ia menjelaskan, dalam peristiwa Pentakosta para rasul mampu berbicara dalam berbagai bahasa sehingga semua orang dari beragam bangsa dapat memahami pewartaan Injil. Mukjizat itu menunjukkan bahwa Allah menghargai bahasa, budaya, dan identitas setiap bangsa sebagai kekayaan yang harus dirawat bersama.
Menurut Yakobus, semangat Pentakosta sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Indonesia memiliki ratusan suku dan bahasa daerah, namun tetap dipersatukan oleh semangat Bhinneka Tunggal Ika dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
“Pentakosta mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi dalam persaudaraan,” katanya.
Yakobus menilai, nasionalisme bagi umat Katolik bukan sekadar kewajiban sebagai warga negara, tetapi juga bagian dari panggilan iman. Semangat “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia” disebutnya sebagai wujud nyata penghayatan iman yang mencintai Gereja sekaligus mencintai tanah air.
Ia juga mengingatkan tantangan kehidupan modern, terutama di era media sosial yang sering dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, dan penyebaran hoaks. Karena itu, umat Katolik dipanggil membawa “bahasa Pentakosta”, yakni bahasa kasih, dialog, kejujuran, dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.
“Sebagai umat yang dipimpin Roh Kudus, kita harus hadir membawa damai, menjaga persatuan, membantu sesama tanpa membedakan agama maupun suku, serta menjaga keutuhan NKRI dan Pancasila,” ujar Yakobus.
Melalui perayaan Pentakosta, umat Katolik diharapkan semakin aktif merawat kerukunan dan membangun solidaritas sosial di tengah masyarakat. Semangat Roh Kudus diyakini mampu membimbing umat untuk menjadi pribadi yang setia dalam iman sekaligus bertanggung jawab menjaga Indonesia tetap damai dan harmonis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....