Bercanda atau Melecehkan, Kenali Batasannya dalam Bersosialisasi

  • 17 Apr 2026 12:48 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju- Belakangan ramai isu pelecehan yang terjadi di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, dari fenomena tersebut terjadi banyak pro-kontra yang bergulir di tengah masyarakat dan mengingatkan kita bahwa masih banyak yang belum memahami bentuk pelecehan yang sering terjadi di tengah masyarakat.

Di era sosial yang semakin terbuka, banyak hal yang sebetulnya mengarah pada pelecehan, namun sering kali dianggap ‘biasa’. Salah satu bentuk pelecehan yang paling sering diabaikan adalah pelecehan verbal, seperti candaan bernuansa seksual, siulan di jalan, hingga komentar tentang tubuh seseorang yang sering kali dinormalisasi.

Padahal, perilaku atau perbuatan tersebut jika disampaikan tanpa persetujuan dan membuat seseorang tidak nyaman, sudah termasuk pelecehan. Sayangnya, banyak yang masih menganggapnya sekadar gurauan.

Selain itu, pelecehan non-verbal juga sering terjadi tanpa disadari. Tatapan yang mengarah pada bagian tubuh tertentu atau gestur tubuh yang bernuansa seksual bisa membuat seseorang merasa tidak aman, meskipun tidak melibatkan kata-kata atau sentuhan. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk pelecehan yang melanggar batas privasi.

Tak kalah penting, sentuhan fisik yang dianggap “iseng”, terutama di lingkungan pertemanan atau tempat kerja, seperti menepuk pundak, merangkul tanpa izin, atau menyentuh bagian tubuh tertentu dengan alasan bercanda bisa membuat korban merasa tidak nyaman.

Namun, bagi sebagian orang hal ini malah dianggap remeh dan sering kali karena pelaku adalah orang yang dikenal, maka korban memilih diam.

Di era digital, pelecehan juga hadir dalam bentuk yang lebih tersembunyi. Pesan pribadi yang tidak pantas, komentar seksual di media sosial, hingga pengiriman gambar yang tidak diinginkan menjadi contoh pelecehan digital yang sering diremehkan.

Banyak yang menganggap dunia maya sebagai ruang bebas, padahal etika dan batasan tetap berlaku.

Mengabaikan pelecehan, sekecil apa pun bentuknya, dapat memperkuat budaya yang membiarkan tindakan tersebut terus terjadi.

Dampaknya tidak hanya pada rasa tidak nyaman, tetapi juga bisa memicu trauma, menurunkan kepercayaan diri, hingga membuat korban merasa tidak aman di ruang publik.

Penting bagi kita untuk mulai peka terhadap batasan orang lain dan tidak menganggap semua hal lucu atau biasa oleh satu orang, akan dirasakan sama oleh orang lain.

Sebagai makhluk sosial, kunci utama yang harus kita punya dalam bersosialisasi adalah menghargai persetujuan dan menjaga sikap saling menghormati satu sama lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....