Siap Nonton Piala Dunia tanpa Lacak, Warga Nantikan Siaran Digital TVRI di Mateng

  • 26 Feb 2026 16:14 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mateng – Gelaran Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung pada 11 Juni hingga 16 Juli 2026 mendatang dipastikan menjadi pesta sepak bola yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Untuk menjangkau siaran di Mamuju tengah, TVRI Sulawesi Barat akan meluncurkan siaran digital sehingga warga dapat menikmati siaran piala dunia.

Pemerintah melalui Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (TVRI) akan menyiarkan seluruh pertandingan secara gratis melalui siaran free to air, menjangkau pelosok negeri hingga ke wilayah-wilayah yang selama ini kesulitan mengakses tayangan sepak bola berkualitas.

TVRI dengan jangkauan terluas di Indonesia menjadi ujung tombak pemerataan akses ini. Keseriusan pemerintah terlihat dari persiapan infrastruktur yang masif, termasuk pembangunan stasiun-stasiun relay baru di berbagai titik strategis. Salah satu daerah yang mendapat perhatian adalah Kabupaten Mamuju Tengah, di mana kehadiran siaran digital UHF akan membuka babak baru bagi masyarakat dalam menikmati tayangan televisi.

Selama ini, masyarakat Mamuju Tengah mengandalkan antena parabola untuk menonton televisi. Namun, kebiasaan itu kerap dibayangi kendala teknis dan non-teknis. Dui, seorang warga setempat, mengaku sudah terbiasa dengan istilah "pelacakan / dilacak"—sebutan yang akrab di telinga masyarakat untuk menggambarkan siaran yang tiba-tiba terhenti di tengah acara.

"Kalau istilah kami di sini, kalau tiba-tiba siaran mati pas lagi asyik nonton, itu namanya kena 'lacak' . Tapi kami tahu, itu bukan karena cuaca. Biasanya karena sinyalnya diputus dari pusat, entah karena kami tidak bayar atau mungkin masalah hak siar. Jadi ya sudah maklum, kalau tidak bayar ya mati," ujar Dui sambil tertawa kecil.

Penjelasan Dui menggambarkan pemahaman masyarakat awam terhadap sistem siaran berlangganan berbasis satelit. "Pelacakan" yang mereka maksud sejatinya adalah pemutusan distribusi siaran secara sengaja oleh penyedia layanan karena akun tidak melakukan pembayaran atau karena pembatasan hak siar regional. Bagi masyarakat di daerah terpencil, istilah teknis itu menyatu menjadi pengalaman sehari-hari: ketika siaran bola tiba-tiba menghilang, artinya ada "pelacakan".

Kini dengan rencana hadirnya siaran digital TVRI, Dui dan warga Mamuju Tengah lainnya untuk pertama kalinya akan merasakan pengalaman berbeda. Mereka dapat menonton Piala Dunia 2026 hanya dengan antena biasa atau antena UHF, tanpa perlu repot dengan receiver parabola atau khawatir siaran tiba-tiba terputus karena masalah administrasi.

"Saya masih agak bingung dan kurang percaya, ini benar-benar gratis? Nanti tidak tiba-tiba kena 'pelacakan' lagi? Biasanya kalau gratis begini, kami ragu. Tapi kata pemerintah, ini memang untuk rakyat. Ya semoga saja benar-benar lancar," tambah Dui dengan harap-harap cemas.

Ketidakpercayaan Dui mencerminkan pengalaman panjang masyarakat yang terbiasa dengan siaran terbatas. Namun, langkah pemerintah menyiapkan infrastruktur relay hingga ke Mamuju Tengah menjadi bukti nyata bahwa siaran digital terbuka adalah komitmen, bukan sekadar janji.

Bagi masyarakat Mamuju Tengah, Piala Dunia 2026 nanti bukan hanya tentang menonton tim-tim terbaik dunia bertanding. Lebih dari itu, ini adalah simbol bahwa tontonan berkualitas kini bisa dinikmati secara setara, tanpa sekat geografis dan tanpa bayang-bayang "pelacakan" yang selama ini menghantui.

Rekomendasi Berita