Pembuatan Minyak Tradisional Masih Bertahan di Sulbar
- 17 Feb 2026 14:47 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Pembuatan minyak asli secara manual masih kerap dilakukan masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Barat. Proses tradisional ini umumnya memanfaatkan bahan baku kelapa yang diolah tanpa menggunakan mesin, melainkan melalui tahapan pemarutan, pemerasan santan, hingga pemanasan secara perlahan di atas tungku.
Cara manual tersebut dipertahankan karena dianggap menghasilkan minyak yang lebih harum dan tahan lama. Selain itu, metode tradisional dinilai lebih hemat biaya bagi masyarakat yang memproduksi minyak dalam skala rumah tangga.
Dalam prosesnya tahapan pertama yang harus dilakukan adalah melepas kelapa dari sabuknya, biasanya masyarakat kerap menggunakan alat sederhana yang disebut “Passukke” atau pengupas. Setelah itu, kelapa di belah dan dipisahkan dari tempurungnya kemudian di cuci menggunakan air kelapa yang telah di belah tadi.
Proses selanjutnya, masuk ke tahap parut yang juga menggunakan pabrik kelapa tempo dulu yang juga parutnya secara manual yang harus di proses perlahan dan membutuhkan kelihaian serta kehati-hatian. Lalu kelapa yang telah diparut lanjut diperas untuk menghasilkan santan.
Santan kemudian dimasak berjam-jam sambil terus diaduk hingga terpisah antara minyak dan ampas, tahapan ini membutuhkan kesabaran serta ketelitian agar minyak tidak gosong dan kualitasnya tetap terjaga.
Minyak yang dihasilkan biasanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak maupun bahan campuran obat tradisional. Sebagian warga juga menjualnya di pasar lokal sebagai sumber tambahan penghasilan.
Meskipun saat ini tersedia mesin pengolah minyak yang lebih modern, sebagian masyarakat masih memilih cara manual karena telah menjadi tradisi turun-temurun. Selain menjaga cita rasa khas, proses ini juga menjadi bagian dari kearifan lokal yang terus dilestarikan di berbagai daerah di Sulawesi Barat.