Komunitas Sambung Tangan : Anak Pedalaman ternyata Kebal Kecanduan Gadget

  • 24 Agt 2026 18:24 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Direktur Komunitas Sambung Tangan, Riana Maharani, mengungkapkan anak-anak penerima manfaat di lokasi-lokasi terpencil binaan komunitasnya justru jarang terpapar dampak negatif gadget, berbeda dengan tren digitalisasi yang lekat pada anak-anak perkotaan.

Pernyataan itu disampaikan Riana dalam dialog interaktif "Ngobrol Bareng Komunitas" di RRI Pro 1 Mamuju, Jumat, 21 Agustus 2026, bersama Public Relation Sambung Tangan, Silmi Magfira Anas. Program bertema "Sambung Tangan, Sambung Harapan" ini membahas upaya komunitas mewujudkan pendidikan setara bagi anak-anak di wilayah sulit akses.

Riana menjelaskan timnya jarang menjumpai penerima manfaat yang sibuk bermain gadget saat kegiatan berlangsung di lapangan.

"Kalau di kegiatan Sambung Tangan sendiri itu jarang sekali kami mendapati penerima manfaat itu yang main gadget," ujar Riana.

Menurutnya, keterbatasan akses teknologi di lokasi terpencil justru berdampak positif bagi interaksi sosial anak-anak dengan para relawan. Fokus anak-anak pada kegiatan tatap muka membuat hubungan emosional lebih mudah terbangun.

Ia menambahkan antusiasme relawan turut memperkuat kedekatan dengan anak-anak penerima manfaat selama kegiatan berlangsung.

"Melihat antusiasme teman-teman volunteer juga yang menghargai adik-adik di depannya malah bikin kegiatannya makin intim," kata Riana.

Riana menyebut fenomena ini berbeda jauh dari kondisi anak-anak di wilayah perkotaan yang lebih rentan terpapar dampak negatif gawai. Chemistry antara relawan dan anak-anak di lokasi terpencil disebutnya kerap terbangun secara alami di setiap agenda kegiatan.

Sambung Tangan merupakan komunitas independen tanpa pendanaan tetap yang mengandalkan volunteer, masyarakat, dan kolaborasi insidental dengan pemerintah maupun swasta. Komunitas ini secara rutin berpindah lokasi menyasar anak-anak di wilayah terpencil, termasuk yang masih bersekolah namun minim akses fasilitas pendidikan.

Program serupa direncanakan berlanjut hingga akhir September 2026 dengan konsep kegiatan berbeda dari sebelumnya. Masyarakat umum, termasuk warga di sekitar Makassar, dapat bergabung sebagai volunteer dalam kegiatan mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....