Festival Penyu Desak Negara Hadir Atasi Bom Ikan

  • 21 Mei 2026 12:39 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Kasus nelayan korban bom ikan di Pulau Bottoa memicu desakan agar negara tidak hanya menindak, tetapi juga memberi solusi alat tangkap ramah lingkungan bagi nelayan.

Nelayan di Pulau Bottoa, Kabupaten Polewali Mandar, kembali menjadi korban praktik penangkapan ikan dengan bahan peledak yang sudah lama dilarang undang-undang. Ia mengalami luka serius pada tangan akibat bom ikan yang meledak saat digunakan di perairan sekitar pulau kecil tersebut.

Dalam Dialog Suara Nusantara RRI Mamuju, Founder Festival Penyu Mampie, Yusri, menegaskan perlunya kehadiran negara dalam kasus ini.

“Kita berharap polairut dan PSDKP bersikap tegas dalam penindakan, tapi pemerintah juga harus hadir memberi solusi,” ujar Yusri, Rabu, 20 Mei 2026.

Yusri menjelaskan, banyak nelayan menggunakan bom ikan karena terdesak kebutuhan dapur dan keterbatasan akses terhadap alat tangkap yang lebih ramah lingkungan. Ia menilai penindakan hukum saja tidak cukup, sebab akar masalah terletak pada ketiadaan alternatif yang terjangkau bagi nelayan kecil.

Ketua Panitia Festival Penyu 2026, Muh. Askar Al-Qadri, mengingatkan bahwa bom ikan tidak hanya melukai pelaku, tetapi juga merusak ekosistem terumbu karang dan mengganggu rantai makanan laut.

“Ada rantai pasok yang sudah terputus di laut, sehingga pengeboman ikan pada akhirnya merugikan nelayan itu sendiri,” kata Askar.

Akibat kerusakan terumbu karang dan padang lamun, stok ikan di wilayah tangkap nelayan tradisional berpotensi menurun, dan harga ikan di pasar bisa terdorong naik. Yusri menilai situasi ini berimbas pada ketahanan pangan masyarakat pesisir dan kota, termasuk risiko terhadap upaya penurunan angka stunting.

Aktivis Festival Penyu Mampie mendorong pemerintah menyediakan bantuan alat tangkap ramah lingkungan dan program pendampingan ekonomi bagi nelayan di Pulau Bottoa dan pesisir Polman. Mereka juga mengusulkan penguatan patroli laut, edukasi berkelanjutan, serta integrasi isu bom ikan dalam kampanye lingkungan seperti Festival Penyu.

Kasus terbaru ini menambah deretan insiden bom ikan di Sulawesi Barat dan mempertegas perlunya sinergi penegak hukum dengan Dinas Kelautan dan Perikanan dalam menjaga laut sekaligus melindungi mata pencaharian nelayan tradisional. Pemerintah daerah dan pusat diminta tidak menunggu korban jatuh lagi sebelum menyediakan solusi nyata di lapangan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....