DLH Sulbar Ingatkan Pengelolaan Limbah MBG Harus Sesuai Kapasitas IPAL

  • 14 Mei 2026 10:37 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sulawesi Barat mengingatkan pentingnya pengelolaan limbah dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) serta Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Dinas Lingkungan Hidup Sulawesi Barat, Alexander Bontang, mengatakan setiap dapur MBG berpotensi menghasilkan limbah cair dalam jumlah cukup besar sehingga harus dikelola dengan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memadai.

“Kalau secara limbah cair, satu porsi bisa menghasilkan sekitar 5 sampai 7 liter. Jika dikalikan dengan jumlah porsi yang diproduksi setiap hari, volume limbah yang harus dikelola tentu sangat besar,” kata Alexander di kantor RRI Mamuju, Kamis 14 Mei 2026.

Ia menjelaskan, apabila dapur MBG memproduksi sekitar 3.000 porsi per hari, maka volume limbah cair yang dihasilkan bisa mencapai sekitar 22,5 meter kubik per hari.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut kapasitas IPAL yang sesuai dengan jumlah limbah yang dihasilkan agar sistem pengolahan dapat berjalan optimal.

“Jadi kapasitas limbah itu harus sesuai dengan IPAL yang tersedia. Jangan sampai volume limbah yang dihasilkan lebih besar daripada kapasitas pengolahannya,” ujarnya.

Alexander menegaskan, limbah cair yang dibuang tanpa pengolahan berpotensi mencemari lingkungan dan mengganggu kualitas air di sekitar lokasi dapur MBG.

“Kalau tidak ada pengolahan dan langsung dibuang, tentu itu akan mencemari lingkungan,” tegasnya.

Selain limbah cair, DLH Sulbar juga menyoroti persoalan sampah padat yang berasal dari sisa makanan maupun bahan baku yang tidak terpakai.

Ia menyebut penanganan sampah tersebut harus mengikuti regulasi pengelolaan sampah yang berlaku.

“Kalau sampahnya biasanya berasal dari sisa makanan atau sisa bahan makanan yang tidak terpakai, itu juga bisa menumpuk. Makanya ada aturan bagaimana penanganannya,” jelas Alexander.

Ia menyarankan agar dapur MBG menyiapkan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, seperti penyediaan komposter, tempat sampah terpilah, hingga kerja sama dengan pihak pengangkut sampah.

“Bisa dibuat komposter, disiapkan tempat sampah terpilah, atau bekerja sama dengan pihak pengangkut untuk memastikan sampah tertangani dengan baik,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....