Festival Jiwa Wastra, Tenun Sulbar Bangkitkan Ekonomi Kreatif

  • 24 Apr 2026 14:07 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Festival Jiwa Wastra Sulbar 2026 digelar sebagai panggung kebangkitan tenun lokal sekaligus pengungkit ekonomi kreatif daerah.

Founder Festival Jiwa Wastra Sulbar, Abdi Latief, dalam dialog di RRI Mamuju, Rabu, 22 April 2026, mengatakan festival yang baru saja usai di Mamuju ini mempertemukan penenun, desainer, komunitas kreatif, hingga pemerintah dalam satu ruang kolaboratif. Penyelenggara menargetkan menjadi distribusi karya tenun dalam hal menjangkau pasar yang lebih luas.

Abdi menjelaskan, riset tenun di Sulawesi Barat sudah dilakukan lebih dari sepuluh tahun, mencakup Sekomandi Kalumpang, Sambu Mamasa hingga Sa’be Mandar. Festival ini dirancang menjadi jawaban atas masalah utama penenun, yaitu kesulitan mendistribusikan hasil karya ke pasar.

“Kita berpikir bagaimana caranya agar kita membuat satu event untuk mengajarkan penenun, mempertemukan dengan distributor, mempertemukan dengan pembeli serta tentu pemerintah daerah untuk hadir bersama sama dalam hal ini,” ujar Abdi Latief.

Sementara itu, Kepala Bidang Industri, Investasi dan Pemasaran Pariwisata Disporaparekraf Sulbar, Abdi Yansya, menilai Jiwa Wastra sejalan strategi daerah menggenjot kunjungan lewat event dan digitalisasi. Sulbar yang belum menjadi tujuan turis reguler, didorong tampil melalui festival budaya dan promosi wastra secara daring.

“Kami menargetkan kunjungan tidak hanya fisik, tetapi juga kunjungan digital lewat konten dan transaksi tenun Sulbar,” kata Abdi Yansya.

Pemerintah daerah menargetkan pertumbuhan transaksi tenun terus meningkat melalui festival, live shopping, dan pembukaan ruang pasar baru. Ke depan, penyelenggara berencana menghadirkan lebih banyak desainer nasional serta mendatangkan pembeli potensial dari luar Sulbar untuk berbelanja langsung.

Festival Jiwa Wastra juga diharapkan menguatkan identitas budaya Sulawesi Barat di mata generasi muda, yang mulai tertarik lewat gelaran fashion show dan eksposur media sosial. Penyelenggara menekankan pentingnya menyesuaikan pelestarian tenun dengan zaman, agar tenun tetap hidup sebagai sumber karya dan ekonomi masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....