Akademisi Unimaju: PUG Bukan Soal Siapa Unggul, Ini Soal Hak

  • 16 Mar 2026 16:42 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Akademisi Universitas Muhammadiyah Mamuju meluruskan kesalahpahaman publik yang menganggap Pengarusutamaan Gender (PUG) sebagai gerakan superioritas perempuan atas laki-laki.

Kesalahpahaman ini mencuat dalam Dialog Interaktif PUG RRI Mamuju, Senin (16/3/2026), saat seorang pendengar dari Mamuju mempertanyakan apakah PUG mendorong istri untuk tidak lagi menghargai suami. Pertanyaan itu dipicu fenomena viral seorang istri yang mengajukan cerai setelah naik jabatan, yang dikaitkan sebagian pihak dengan semangat kesetaraan gender.

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Mamuju, Dr. Nur Wahyunianti Dahri, menegaskan bahwa tafsir tersebut keliru dan menyesatkan.

"Pengarusutamaan gender itu bukan berbicara tentang perempuan, tetapi tentang bagaimana laki-laki dan perempuan mendapatkan hak yang sama — setara, bukan berarti harus porsinya sama," jelasnya.

Ia menjelaskan, PUG adalah strategi negara untuk memastikan setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan, memperoleh hak yang setara dalam aktualisasi diri, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat. Perempuan yang merasa lebih superior dari suami karena jabatan atau penghasilan dinilai justru mencerminkan rendahnya kesadaran diri atau self-esteem, bukan penerapan PUG.

"Kalau kita tetap sadar dengan posisi kita sebagai istri, walaupun jabatan apa yang kita dapatkan di tempat kerja, kita akan tetap menempatkan suami di atas segalanya dalam kehidupan sehari-hari," tambahnya.

Pendengar lain, Ikrimah dari Mamuju, juga mengajukan pertanyaan soal batasan peran ganda perempuan dalam rumah tangga dari perspektif agama. Merespons itu, Dr. Nur Wahyunianti menekankan bahwa keadilan dalam keluarga bukan soal porsi yang sama, melainkan porsi yang sesuai dengan peran dan kewajiban masing-masing.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....