DLH : Kualitas Udara di Permukiman Kawasan Perkotaan Malinau Tidak Sehat

  • 01 Sep 2026 19:18 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Kualitas udara di wilayah perkotaan Kabupaten Malinau telah masuk kategori tidak sehat akibat meningkatnya volume asap dari kebakaran hutan di Kalimantan Utara.
  • Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malinau melakukan pemantauan kualitas udara pada tiga titik yang mewakili karakter lingkungan berbeda Selasa, 1 September 2026.
  • Kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan Utara berdampak langsung terhadap peningkatan asap dan penurunan kualitas udara di permukiman kawasan perkotaan Malinau.

RRI.CO.ID, Malinau - Kualitas udara di kawasan permukiman di wilayah perkotaan Kabupaten Malinau masuk kategori tidak sehat seiring meningkatnya volume asap, dampak kebakaran hutan (Karhutla) di Wilayah Kalimantan Utara.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malinau memantau kualitas udara pada tiga titik yang mewakili karakter lingkungan berbeda, Selasa (1/9/2026).

Padang Liu Burung, Desa Malinau Hulu, Kecamatan Malinau Kota mewakili kawasan perkantoran, kawasan depan Bandara RA Bessing, Desa Pelita Kanaan mewakili lokasi transportasi, sedangkan Taman Jajok Desa Malinau Seberang, Kecamatan Malinau Utara, mewakili kawasan permukiman.

Pengukuran menggunakan alat portabel milik DLH menunjukkan konsentrasi Particulate Matter 2,5 (PM2,5) di kawasan Taman Jajok mencapai 58,67 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Sedangkan konsentrasi PM2,5 di Padang Liu Burung dan kawasan depan bandara masing-masing berada pada angka 40 µg/m³, yang dikategorikan sedang.

"Kami melakukan pemantauan di tiga titik, yaitu Padang Liu Burung, depan bandara, dan Taman Jajok," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malinau, John Felix Rundu Padang, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (1/9/2026).

Menurut John Felix, berdasarkan klasifikasi kualitas udara yang digunakan dalam pemantauan tersebut, konsentrasi PM2,5 hingga 55,4 µg/m³ masih berada pada kategori sedang. Sementara konsentrasi di atas ambang tersebut masuk kategori tidak sehat.

PM2,5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil, dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil, sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Karena ukurannya yang sangat kecil, partikel ini dapat masuk lebih jauh ke dalam sistem pernapasan hingga mencapai bagian dalam paru-paru.

"PM2,5 inilah yang utama kita perhatikan, karena bisa masuk sampai ke paru-paru bagian dalam dan mengganggu pernapasan," kata John Felix.

Dibandingkan hasil pengukuran sebelumnya, kondisi kualitas udara hari ini disebut sedikit membaik. John Felix menyebut konsentrasi PM2,5 pada pengukuran sehari sebelumnya berada di kisaran 60 µg/m³. Namun, pengukuran tersebut dilakukan pada sore hari, sedangkan pemantauan kali ini berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang.

DLH juga memantau perkembangan kualitas udara melalui aplikasi IQAir sebagai data pembanding. Pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2,5 berada pada angka 56 pada pukul 06.00 WITA dan meningkat menjadi 59 pada pukul 09.00 WITA.

Angka tersebut kembali meningkat hingga 67,1 pada pukul 12.00 WITA, sebelum turun menjadi 60,7 pada pukul 15.00 WITA. Fluktuasi tersebut menunjukkan kondisi kualitas udara dapat berubah sepanjang hari.

John Felix mengatakan pemantauan akan terus dilakukan untuk melihat perkembangan kondisi udara sekaligus membandingkan hasil alat portabel DLH dengan data pemantauan melalui aplikasi.

"Kita akan monitor terus bagaimana situasinya, karena kita sudah ada pembanding antara aplikasi dan alat kita," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....