Diproyeksi Lahirkan Bayi Stunting, Dinkes Pantau Intensif 149 Ibu Hamil

  • 28 Agt 2026 10:42 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Malinau memperketat pemantauan terhadap 149 ibu hamil berisiko tinggi yang diproyeksikan melahirkan bayi stunting pada semester kedua 2026.
  • Dari 149 ibu hamil berisiko tinggi, sebanyak 102 mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan 47 lainnya mengalami anemia.
  • Proyeksi risiko stunting tersebut didasarkan pada data ibu hamil yang terdaftar sepanjang tahun 2026 menurut penjelasan Kepala DKPPKB Kabupaten Malinau, Yuli Triana.

RRI.CO.ID, Malinau - Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Malinau memperketat pemantauan terhadap 149 ibu hamil berisiko tinggi yang diproyeksikan melahirkan bayi stunting pada semester kedua 2026.

Kepala DKPPKB Kabupaten Malinau, Yuli Triana, menjelaskan proyeksi tersebut berdasarkan data ibu hamil yang terdaftar sepanjang tahun 2026. Ia merinci, sebanyak 102 ibu hamil mengalami kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan 47 lainnya mengalami anemia.

"Sesuai dengan data yang ada di Sigizi Kesga, ibu hamil di tahun 2026 ini ada 748 yang akan melahirkan. Ada 149 proyeksi kita bayi balita yang stunting nanti lahirnya, karena dia lahir dari ibu hamil resti,” ujarnya dalam paparan data stunting di Ruang Intulun Kantor Bupati Malinau beberapa waktu lalu.

Data ini tersebar di 17 puskesmas dan 15 kecamatan se-Kabupaten Malinau. Selebihnya, sebanyak 599 orang masuk kategori ibu hamil normal.

Kelompok berisiko tinggi inilah yang kini menjadi fokus pemantauan dan intervensi dinas kesehatan melalui puskesmas dan kecamatan, antara lain melalui screening anemia, edukasi gizi, kesehatan reproduksi, dan pemberian obat tambah darah.

Pihaknya berharap, potensi kelahiran bayi stunting pada semester mendatang dapat ditekan sedini mungkin. “Harapan kita nanti itu menurun drastis, karena ada upaya-upaya yang kita lakukan terkait dengan pencegahan," kata Yuli.

Sementara untuk intervensi langsung pada balita sasaran, saat ini Pemkab Malinau fokus pada akurasi data by name by address. Pendekatan ini memungkinkan setiap kasus stunting ditangani sesuai penyebabnya, bukan lagi secara umum seperti sebelumnya.

Pendekatan ini mencakup data rinci hingga tingkat keluarga, mulai dari pekerjaan dan pendidikan orang tua, latar belakang sosial budaya, hingga pola asuh dan kebiasaan hidup, sehingga intervensi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.

Yuli juga mengungkap adanya 1.176 balita yang akan keluar dari sistem pemantauan atau drop out pada semester kedua 2026 karena telah melewati batas usia lima tahun.

“Di tahun 2026 di semester kedua ada terdapat 1.176 balita yang DO, yang artinya selesai, maksudnya umurnya akan melewati dari lima tahun, drop out dari sistem," jelasnya.

Sebagai gambaran, hingga Juni 2026, sebanyak 506 orang atau 13,03 persen balita sasaran yang ditimbang di Malinau teridentifikasi mengalami stunting.

Angka prevalensi ini masih berada di bawah target nasional sebesar 17,5 persen, namun masih lebih tinggi dari target Kabupaten Malinau yang mengejar penurunan hingga angka 11 persen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....