Teridentifikasi 27 Anak Stunting di Sungai Tubu, Kebiasaan Keluarga Disorot

  • 12 Agt 2026 14:43 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Sebanyak 27 anak dari 180 peserta posyandu di lima desa Kecamatan Sungai Tubu, Malinau, teridentifikasi mengalami stunting pada Mei 2026.
  • Verifikasi lapangan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan kader posyandu untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan kasus stunting pada anak-anak guna menentukan langkah intervensi.

‎RRI.CO.ID, Malinau - Sebanyak 27 anak di Kecamatan Sungai Tubu, Kabupaten Malinau, teridentifikasi mengalami stunting berdasarkan hasil verifikasi lapangan yang dilakukan tenaga kesehatan dan kader posyandu pada Mei 2026.

‎Camat Sungai Tubu, Jimmy Sakai mengatakan, temuan tersebut berasal dari hasil verifikasi terhadap anak yang mengikuti kegiatan posyandu di lima desa. Dari sekitar 180 anak yang menjadi peserta posyandu, 27 di antaranya tercatat mengalami stunting.

‎Hasil verifikasi tidak hanya mencatat jumlah kasus, tetapi juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang ditemukan di lingkungan keluarga. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kebiasaan merokok di dalam rumah.

‎"Yang menjadi permasalahan umumnya sama, perilaku. Salah satunya kebiasaan merokok di dalam rumah," ujar Jimmy dalam agenda pemaparan data stunting per kecamatan di Kantor Bupati Malinau beberapa waktu lalu.

‎Menurutnya, kebiasaan tersebut menjadi perhatian karena ditemukan pada keluarga yang memiliki anak dalam periode 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga setelah kelahiran.

Hasil verifikasi juga menemukan sejumlah persoalan lain yang berkaitan dengan kondisi anak dan keluarga. Di antaranya belum lengkapnya imunisasi, pemberian ASI eksklusif yang belum optimal, faktor keturunan berupa kondisi fisik orang tua yang pendek, serta kekurangan energi kronis pada ibu saat hamil.

‎Faktor sosial dan budaya di lingkungan keluarga juga menjadi perhatian. Jimmy menyebut masih terdapat pantangan makanan yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat setempat, baik untuk anak maupun ibu hamil.

‎"Masih ada tradisi turun-temurun, misalnya dalam memberikan makanan kepada anak ada beberapa pantangan. Anak sakit tidak boleh makan ini dan itu, ibu hamil juga tidak boleh makan makanan tertentu," jelasnya.

‎Di sisi pelayanan, upaya pencegahan dan penanganan stunting di Sungai Tubu masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Di antaranya kemampuan kader posyandu yang perlu diperkuat, keterbatasan alat pengukuran tinggi dan berat badan yang ideal, serta pengetahuan kader dalam menjalankan pelayanan posyandu secara optimal.

‎Berbagai temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi pemerintah kecamatan bersama pihak terkait dalam menentukan langkah intervensi. Upaya yang disiapkan antara lain pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil, pemeriksaan kehamilan, penguatan pemberian ASI eksklusif dan MPASI berkualitas, serta pemantauan tumbuh kembang anak dan kelengkapan imunisasi.

‎Intervensi juga diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat melalui penyediaan sarana air bersih dan sanitasi, termasuk memastikan rumah tangga memiliki jamban yang layak.

‎Selain itu, penanganan stunting akan diperkuat dengan bantuan makanan pendamping, edukasi pola asuh, serta peningkatan kapasitas kader posyandu.

‎Jimmy menegaskan, penanganan stunting di Sungai Tubu membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Tidak hanya kondisi anak yang perlu diperhatikan, tetapi juga kebiasaan keluarga, pola asuh, kualitas pelayanan posyandu, serta lingkungan tempat anak tumbuh.

‎Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap intervensi dapat dilakukan secara lebih tepat berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan, sekaligus menekan kasus stunting dan mendukung tumbuh kembang anak di wilayah pedalaman Sungai Tubu. (Ading)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....