Puluhan Balita Masuk Data Stunting, Malinau Kota Perkuat Intervensi

  • 05 Agt 2026 09:35 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • 92 balita tercatat mengalami stunting di Kecamatan Malinau Kota berdasarkan data SIGIZI KESGA triwulan II tahun 2026.
  • Pemerintah kecamatan menargetkan intervensi kesehatan mulai dari masa kehamilan hingga pola asuh keluarga untuk mengatasi faktor risiko stunting.

RRI.CO.ID, Malinau - Sebanyak 92 balita tercatat dalam data stunting di Kecamatan Malinau Kota pada triwulan II tahun 2026 berdasarkan data SIGIZI KESGA. Pemerintah kecamatan menyiapkan sejumlah intervensi dengan menyasar faktor risiko yang ditemukan sejak masa kehamilan hingga pola asuh keluarga.

‎Camat Malinau Kota Muhammad Yusuf mengatakan, berdasarkan hasil wawancara petugas kesehatan dan kader Posyandu, terdapat sejumlah faktor yang berkaitan dengan kasus stunting di wilayahnya.

‎“Dari faktor ibu, ada yang mengalami kekurangan energi kronis saat kehamilan, anemia, kemudian pernikahan usia terlalu muda, serta berat badan lahir rendah,” kata Muhammad Yusuf.

‎Sementara dari sisi bayi, faktor yang ditemukan antara lain tidak mendapatkan inisiasi menyusu dini, ASI eksklusif, pemberian ASI yang tidak sesuai usia, imunisasi tidak lengkap, serta riwayat penyakit bawaan maupun infeksi.

‎Menurutnya, faktor keluarga juga berpengaruh, terutama pengetahuan mengenai pemberian ASI, makanan pendamping ASI atau MPASI yang bergizi dan seimbang, serta pola asuh dan kebersihan yang tepat.

‎Dari 1.473 balita yang menjadi sasaran, sebanyak 545 telah datang untuk ditimbang dan diukur. Terdapat 92 balita terindikasi stunting dengan persentase 16,16 persen.

‎Muhammad Yusuf mengatakan, penanganan perlu dilakukan melalui intervensi yang berbeda sesuai kelompok sasaran. Untuk remaja putri, misalnya, intervensi diarahkan melalui pemberian tablet tambah darah dan edukasi gizi serta pencegahan anemia.

‎Sementara bagi ibu hamil, intervensi mencakup pemeriksaan kehamilan sesuai standar, pemberian tablet tambah darah, makanan tambahan, serta konseling gizi.

‎Untuk bayi dan balita, intervensi meliputi inisiasi menyusu dini, ASI eksklusif selama enam bulan, pemberian MPASI bergizi dan seimbang, vitamin A, zinc saat diare, imunisasi lengkap, serta pemantauan pertumbuhan.

‎Ia menambahkan, penanganan infeksi seperti diare, ISPA, dan cacingan juga menjadi bagian dari intervensi karena dapat memengaruhi kondisi gizi dan pertumbuhan anak.

‎Ke depan, validasi data balita stunting dan keluarga berisiko stunting dilakukan secara berkala. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita melalui Posyandu juga ditargetkan berlangsung setiap bulan untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan sedini mungkin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....