Malinau Catat 269 Kasus HIV, Kedua Setelah Tarakan
- 02 Feb 2026 08:55 WIB
- Malinau
RRI.CO.ID, Malinau – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Malinau mencatat akumulasi kasus HIV di Malinau selama beberapa tahun terakhir hingga kini mencapai 269 kasus. Angka ini disebut terbanyak kedua di Kalimantan Utara setelah Kota Tarakan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DKPPKB Malinau, Jonlayri, pada RRI mengatakan sebagian pasien dari total kasus tersebut telah meninggal dunia. Saat ini tercatat 160 orang masih aktif menjalani pengobatan HIV di fasilitas kesehatan Malinau.
“Kalau kita akumulasi dari tahun-tahun sebelumnya sampai sekarang tercatat 269 kasus. Tapi sebagian ada yang sudah meninggal dunia, dan hingga kini yang kami catat masih aktif berobat itu 160,” kata Jonlayri saat dikonfirmasi usai dialog Sapa Malinau di RRI pekan pekan lalu.
Ia menjelaskan, dari 160 pasien yang aktif berobat, kelompok LSL atau laki-laki suka laki-laki mendominasi dengan jumlah 43 orang. Selain itu terdapat empat waria, delapan ibu hamil, dan tiga kasus TB HIV.
“Kasus TB HIV ini awalnya terdiagnosis TB. Setelah dilakukan pemeriksaan darah dan dahak, ternyata juga mengidap HIV, makanya disebut seperti itu,” ujarnya.
Jonlayri menambahkan, terdapat pula 21 pasien yang merupakan pasangan orang dengan HIV, umumnya penularan terjadi dari suami ke istri. “Nah ini pasangannya ada juga yang sudah meninggal, awalnya dari suami,” ungkapnya.
Sisanya merupakan kasus HIV yang ditemukan pada populasi umum seperti pekerja kantoran, anggota TNI, Polri, dan masyarakat lainnya.
Menurutnya, tidak semua pasien yang berobat berdomisili di Malinau. “Jadi tidak semua tinggal di Malinau, misalnya di wilayah terdekat, namun terdeteksi HIV saat menjalani pemeriksaan di RSUD Malinau,” imbuhnya.
Ia menambahkan, data HIV saat ini sudah terkoneksi di seluruh puskesmas. Sehingga, pasien boleh mengambil obat di puskesmas mana pun yang tersedia dan semuanya gratis.
Jonlayri mengingatkan, penularan HIV umumnya terjadi melalui hubungan seksual berisiko seperti berganti-ganti pasangan dan hubungan tanpa kondom, penggunaan jarum suntik tidak steril, transfusi darah dari sumber tidak jelas, serta penularan dari ibu ke bayi.
Ia menegaskan, pencegahan dapat dilakukan dengan perilaku seksual yang aman, tidak berbagi jarum suntik, memastikan alat medis steril, serta melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi ibu hamil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....