Kemenperin Targetkan Industri Keramik Domestik Masuk Empat Besar Dunia

  • 04 Jun 2026 22:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menargetkan industri keramik nasional masuk empat besar dunia.
  • Target tersebut didukung kapasitas produksi besar dan kebijakan pemerintah yang mendukung industri dalam negeri.
  • Kapasitas produksi terpasang industri keramik nasional mencapai 650 juta meter persegi per tahun.

RRI.CO.ID, Tangerang - Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, mengatakan industri keramik nasional ditargetkan masuk empat besar dunia. Target tersebut didukung kapasitas produksi besar dan kebijakan yang berpihak pada industri dalam negeri.

Kapasitas produksi terpasang industri keramik nasional mencapai 650 juta meter persegi per tahun. Tingkat utilisasi industri mencapai 73 persen dan menyerap lebih dari 150 ribu tenaga kerja.

"Industri keramik nasional memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan meningkatkan posisinya dalam rantai pasok global. Dengan dukungan kapasitas produksi yang besar, sumber daya manusia yang kompeten, serta kebijakan pemerintah yang berpihak pada industri dalam negeri," ujar Faisol di Tangerang, Kamis, 4 Juni 2026.

Faisol mengatakan Indonesia saat ini telah masuk jajaran lima besar produsen keramik dunia. Indonesia berada bersama Tiongkok, India, Brasil, dan Vietnam.

Menurutnya, struktur industri yang kuat dan ketersediaan bahan baku domestik menjadi modal penting. Kondisi tersebut mendukung ekspansi industri dan peningkatan daya saing di pasar internasional.

Faisol menjelaskan subsektor barang galian bukan logam tumbuh 9,12 persen pada Triwulan I 2026. Capaian tersebut menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di sektor industri pengolahan.

Menurutnya, industri keramik memiliki peran strategis dalam menopang sektor manufaktur nasional. Industri ini juga mendukung sektor properti dan konstruksi.

"Pertumbuhan ini menempatkan subsektor industri barang galian bukan logam pada posisi ketiga tertinggi. Ini menunjukkan bahwa industri keramik memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan sektor manufaktur nasional," kata Faisol.

Faisol mengatakan kinerja industri pengolahan nasional terus menunjukkan tren positif. Pertumbuhan industri pengolahan pada Triwulan I 2026 mencapai 5,04 persen.

"Berbagai indikator industri menunjukkan tren yang semakin membaik. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Mei 2026 kembali berada pada level ekspansif sebesar 50,0," ucap Faisol.

Pemerintah terus menjaga iklim usaha industri keramik tetap sehat dan kompetitif. Berbagai kebijakan strategis telah dijalankan untuk mendukung industri tersebut.

Kebijakan tersebut meliputi HGBT, SNI wajib, pengamanan perdagangan, dan penguatan TKDN. Kemenperin juga mendorong transformasi industri melalui digitalisasi dan industri hijau.

"Kementerian Perindustrian terus mengakselerasi transformasi industri keramik melalui penerapan Standar Industri Hijau, digitalisasi proses produksi, peningkatan penggunaan teknologi manufaktur modern. Penguatan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta pengembangan produk dan desain yang inovatif," ujar Faisol.

Faisol mengatakan konsumsi keramik nasional baru mencapai 2,5 meter persegi per kapita. Angka tersebut masih di bawah rata-rata negara ASEAN.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan peluang pasar domestik masih terbuka. Peluang itu perlu dioptimalkan melalui inovasi dan perluasan akses pasar.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang pasar domestik masih sangat terbuka. Dan perlu terus dioptimalkan melalui inovasi produk, peningkatan kualitas, serta perluasan akses pasar," kata Faisol.

Sementara itu, Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto mengatakan kapasitas produksi keramik nasional terus meningkat. Kapasitas produksi naik dari 538 juta meter persegi pada 2021 menjadi 650 juta meter persegi pada 2025.

Pada 2026, kapasitas produksi diproyeksikan mencapai 672 juta meter persegi per tahun. Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi 728 juta meter persegi pada 2029.

"Ini menunjukkan tren yang berlawanan dengan industri keramik dunia yang mengalami penurunan produksi sejak 2021. Industri keramik Indonesia justru terus tumbuh dan memperkuat kapasitasnya," ujar Edy.

Edy mengatakan tingkat utilisasi industri keramik mencapai 73 persen pada 2025. Pada semester I 2026, tingkat utilisasi tercatat sebesar 72,5 persen.

ASAKI optimistis utilisasi industri mencapai 75 persen pada akhir 2026. Target tersebut didukung peningkatan permintaan pasar domestik.

"Target utilisasi 75 persen pada tahun 2026 sangat realistis untuk dicapai. Kami yakin kinerja industri akan semakin baik seiring meningkatnya permintaan pasar domestik," kata Edy.

Edy menegaskan industri keramik nasional telah mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik. Kondisi tersebut didukung peningkatan kapasitas produksi dalam beberapa tahun terakhir.

Penambahan kapasitas produksi sejak 2020 hingga 2029 menyerap investasi lebih dari Rp25 triliun. Ekspansi tersebut juga menciptakan lebih dari 20 ribu lapangan kerja baru.

"Artinya, industri keramik nasional saat ini mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik. Tanpa harus bergantung pada impor," ucap Edy.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....