Ditopang Sektor Nonmigas, Neraca Perdagangan April 2026 Surplus

  • 03 Jun 2026 23:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 mencatat surplus sebesar 0,09 miliar dolar AS.
  • Surplus tersebut memperpanjang tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
  • Surplus April 2026 ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatat surplus 3,53 miliar dolar AS.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 tetap mencatat surplus sebesar 0,09 miliar dolar AS. Capaian tersebut memperpanjang tren surplus neraca perdagangan Indonesia selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Menurut Budi, surplus April 2026 ditopang sektor nonmigas yang mencatat surplus 3,53 miliar dolar AS. Sementara itu, sektor migas mengalami defisit sebesar 3,44 miliar dolar AS.

"Jika dilihat secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-April 2026 mencatatkan surplus sebesar USD 5,64 miliar. Surplus tersebut terutama didorong oleh surplus nonmigas sebesar USD 14,16 miliar dan defisit migas sebesar USD 8,52 miliar," ujar Budi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.

Tiga komoditas penyumbang surplus nonmigas terbesar selama Januari-April 2026 berasal dari lemak dan minyak hewani atau nabati. Selain itu, bahan bakar mineral serta besi dan baja juga menjadi kontributor utama surplus perdagangan.

Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar bagi Indonesia. Posisi berikutnya ditempati India dan Filipina selama periode Januari-April 2026.

"Kemendag terus bersinergi memantau dan menentukan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas perdagangan. Memperkuat daya saing ekspor, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," kata Budi.

Pada April 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 25,30 miliar dolar AS. Nilai tersebut meningkat 12,32 persen dibandingkan Maret 2026.

Kenaikan ekspor bulanan didorong peningkatan ekspor nonmigas sebesar 13,66 persen. Sementara itu, ekspor migas mengalami penurunan 9,81 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

"Secara kumulatif, pada Januari-April 2026, total ekspor Indonesia mencapai USD 92,15 miliar atau meningkat 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC). Kinerja ini ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh 6,28 persen menjadi USD 87,74 miliar, sementara ekspor migas terkontraksi 8,30 persen menjadi USD 4,41 miliar," ucap Budi.

Budi mengatakan kinerja ekspor didorong pertumbuhan sektor industri pengolahan. Pada Januari-April 2026, ekspor sektor tersebut meningkat 9,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan ekspor terutama ditopang komoditas nikel, aluminium, bahan kimia organik, tembaga, serta timah. Kenaikan permintaan global dan harga internasional turut mendukung pertumbuhan tersebut.

"Pertumbuhan ekspor komoditas-komoditas tersebut didorong tingginya permintaan global yang diikuti kenaikan harga di pasar internasional. Kondisi tersebut memberikan dampak positif terhadap kinerja ekspor industri pengolahan Indonesia," ujar Budi.

Sementara itu, nilai impor Indonesia pada April 2026 mencapai 25,21 miliar dolar AS. Nilai tersebut meningkat 31,28 persen dibandingkan Maret 2026.

Menurut Budi, kenaikan impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan konsumsi serta kebutuhan industri terhadap bahan baku dan barang modal.

"Kenaikan impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang. Kondisi ini mengindikasikan peningkatan kebutuhan konsumsi masyarakat serta kebutuhan industri terhadap bahan baku dan barang modal," kata Budi.

Sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia hingga April 2026 masih membukukan surplus, meski surplusnya menyusut. Secara bulanan, neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar USD90 juta, menurun dibandingkan Maret 2026 dengan surplus sebesar USD3,23 miliar.

“Surplus bulan April merupakan surplus terkecil sejak Mei 2020, atau selama 72 bulan surplus berturut-turut,” kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statitik (BPS), Pudji Ismartini di gedung BPS Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026. Sedangkan secara kumulatif, dari Januari-April 2026, neraca perdagangan surplus USD5,64 miliar, menurun dari USD11,07 miliar pada periode yang sama tahun 2025.

Suplus hingga bulan April 2026 ditopang oleh surplus pedagangan nonmigas yang tercatat sebesar USD14,16 miliar. Sedangkan neraca perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD8,52 miliar.

Komoditas nonmigas yang menyumbang surplus adalah lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja. Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus terbesar dengan Amerika Serikat, India dan Filipina, namun mengalami defisit terbesar dengan Tiongkok.

Sementara itu kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari-April 2026 tercatat sebesar USD92,15 miliar. Nilai ekspornya meningkat 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Sedangkan kinerja impor sepanjang Januari-April 2026 tercatat sebesar USD86,51miliar. Nilai impornya meningkat13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

“Tiga negara yang menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat dan India. Kontribusi tiga negara ini mencapai 44,52 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-April 2026,” ujar Pudji.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....