April 2026, Neraca Perdagangan Indonesia Masih Surplus meski Turun
- 02 Jun 2026 17:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Neraca perdagangan Indonesia hingga April 2026 masih membukukan surplus, meski surplusnya menyusut.
- Secara bulanan, neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar USD90 juta, menurun dibandingkan Maret 2026 dengan surplus sebesar USD3,23 miliar
- Sedangkan secara kumulatif, dari Januari-April 2026, neraca perdagangan surplus USD5,64 miliar, menurun dari USD11,07 miliar pada periode yang sama tahun 2025
RRI.CO.ID, Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia hingga April 2026 masih membukukan surplus, meski surplusnya menyusut. Secara bulanan, neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar USD90 juta, menurun dibandingkan Maret 2026 dengan surplus sebesar USD3,23 miliar.
“Surplus bulan April merupakan surplus terkecil sejak Mei 2020, atau selama 72 bulan surplus berturut-turut,” kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statitik (BPS), Pudji Ismartini di gedung BPS Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026. Sedangkan secara kumulatif, dari Januari-April 2026, neraca perdagangan surplus USD5,64 miliar, menurun dari USD11,07 miliar pada periode yang sama tahun 2025.
Suplus hingga bulan April 2026 ditopang oleh surplus pedagangan nonmigas yang tercatat sebesar USD14,16 miliar. Sedangkan neraca perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD8,52 miliar.
Komoditas nonmigas yang menyumbang surplus adalah lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja. Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus terbesar dengan Amerika Serikat, India dan Filipina, namun mengalami defisit terbesar dengan Tiongkok.
Sementara itu kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari-April 2026 tercatat sebesar USD92,15 miliar. Nilai ekspornya meningkat 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Sedangkan kinerj impor sepanjang Januari-April 2026 tercatat sebesar USD86,51miliar. Nilai impornya meningkat13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
“Tiga negara yang menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat dan India. Kontribusi tiga negara ini mencapai 44,52 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-April 2026,” ujar Pudji.
Nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai USD22,76 miliar. Komoditas ekspor utama besi dan baja, nikel dan bahan bakar mineral.
Sedangkan tiga negara asal impor nonmigas adalah Tiongkok, Jepang, dan Australia. Kontribusi tiga negara itu sebesar 53,13 persen dari total impor nonmigas Indonesia.
Dari sisi impor, Indonesia masih banyak mengimpor barang modal, bahan baku/penolong dan barang konsumsi. Impor bahan baku/penolong masih mendominasi nilainya sebesar USD61,82 miliar atau naik 11,67 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....