BI Cermati Tren Penurunan Kredit untuk UMKM
- 23 Mei 2026 14:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bank Indonesia mencatat kecenderungan turunnya penyaluran kredit UMKM perbankan untuk UMKM. Padahal UMKM menjadi tulang punggung perekonomian nasional
- Penyebab menurunnya kredit perbankan pada UMKM adalah tingkat risiko yang tinggi. Berupa potensi kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) serta daya beli masyarakat menengah ke bawah yang masih terbatas
- Laporan BI mencatat, NPL untuk kredit UMKM hingga April 2026 sebesar 4,62 persen. Sementara itu ambang batas aman rasio NPL yang ditetapkan OJK dan BI sebesar 5 persen
RRI.CO.ID, Makasar - Bank Indonesia (BI) mencatat kecenderungan turunnya penyaluran kredit UMKM perbankan untuk UMKM. Padahal UMKM menjadi tulang punggung perekonomian nasional dengan kontribusi mencapai 61,9 persen pada Produk Dometik Bruto (PDB).
"Kredit perbankan untuk UMKM beberapa tahun belakangan ini pertumbuhannya terus mengalami penurunan. Penurunan terjadi baik di bank-bank BUMN, Bank Umum Swasta Nasional dan Bank Pembangunan Daerah," kata Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Dhaha P.Kuantan, dalam kegiatan BI di Makasar, Jumat, 22 Mei 2026.
Total pertumbuhan kredit perbankan untuk UMKM hingga April 2026, berdasarkan catatan BI, sebesar 17,16 persen. Pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang sebesar 17,49 persen dan pertumbuhan tahun 2024 sebesar 19,24 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut harus mendapat perhatian mengingat UMKM juga memberikan kontribusi yang besar pada pertumbuhan kredit. "Kita perlu melakukan upaya penguatan UMKM, agar bisa kembali menjadi motor penggerak pertumbuhan kredit dan ekonomi," ujarnya.
Ia mengatakan, penyebab menurunnya kredit perbankan pada UMKM adalah tingkat risiko yang tinggi. Berupa potensi kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) serta daya beli masyarakat menengah ke bawah yang masih terbatas.
Laporan BI mencatat, NPL untuk kredit UMKM hingga April 2026 sebesar 4,62 persen. Sementara itu ambang batas aman rasio NPL yang ditetapkan OJK dan BI sebesar 5 persen.
NPL kredit UMKM, jauh melampaui NPL kredit konsumsi yang tercatat sebesar 2,40 persen. Kemudian, kredit komersial yang NPL nya tercatat 2,79 persen.
Di sisi lain, Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai pertumbuhan yang cukup tinggi di bulan April sebesar 32,5 persen. Sementara di tahun sebelumnya pertumbuhan KUR tercatat sebesar 30,5 persen.
Realisasi KUR hingga April 2026 sebesar Rp96,19 triliun. Sedangkan, target realiasi tahun ini sebesar Rp295 triliun.
"Ini yang kita syukuri. Harapannya, pertumbuhan KUR bisa lebih tinggi lagi. Sehingga dapat menopang pertumbuhan UMKM secara keseluruhan," ujar Dhaha.
Selain itu, lanjutnya, berbagai program pemerintah seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih diharapkan membaik di tahun ini. Sehingga perbankan akan semakin terdorong menyalurkan kreditnya ke UMKM yang terlibat dalam program tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....