Kemenperin Gandeng Perkosmi Perluas Rantai Pasok IKM Kosmetik

  • 19 Mei 2026 13:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenperin dan Perkosmi memperluas kemitraan serta rantai pasok IKM kosmetik nasional.
  • Industri kosmetik nasional terus tumbuh dengan dominasi sektor IKM dan peningkatan nilai ekspor.
  • Pemerintah mendorong kolaborasi multipihak untuk memperkuat ekosistem industri kosmetik yang kompetitif.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama Perhimpunan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) memperluas kemitraan dan rantai pasok Industri Kecil dan Menengah (IKM). Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya saing industri kosmetik di tengah pertumbuhan pasar yang semakin dinamis.

Kemenperin menilai penguatan ekosistem industri diperlukan untuk mendukung pertumbuhan IKM kosmetik nasional. Langkah tersebut dilakukan melalui pengembangan kemitraan dan rantai pasok lokal.

“Industri kosmetik merupakan salah satu sektor yang memiliki prospek sangat baik karena didukung oleh permintaan pasar yang terus meningkat. Kami berharap industri ini memperluas kontribusinya terhadap ekspor dan pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.

Agus mengatakan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat pertumbuhan industri kosmetik nasional dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah industri kosmetik meningkat dari 1.292 pada 2024 menjadi lebih dari 1.500 industri pada akhir 2025.

Sekitar 90 persen dari total industri tersebut merupakan sektor IKM. Nilai ekspor industri kosmetik juga meningkat dari USD417 juta pada 2024 menjadi USD473,8 juta pada 2025.

Agus mengatakan pelaku IKM kosmetik masih menghadapi sejumlah tantangan. Menurutnya, penyelesaian berbagai kendala tersebut perlu dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, akademisi, dan pelaku industri.

“Berbagai kendala yang dihadapi IKM kosmetik membutuhkan penyelesaian secara kolaboratif. Pemerintah pusat dan daerah, asosiasi, akademisi, industri besar hingga masyarakat memiliki peran penting dalam membangun ekosistem yang saling terhubung,” kata Agus.

Agus menilai, kemitraan dapat mempermudah pelaku IKM kosmetik memperoleh bahan baku dan bahan penolong. Melalui kerja sama maklon, pelaku usaha juga dapat memperluas akses distribusi dan pemasaran produk.

Hal yang sama disampaikan Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Dirjen IKMA) Reni Yanita. Ia menjelaskan pengembangan IKM kosmetik dilakukan melalui kolaborasi multipihak.

Program tersebut melibatkan pemerintah daerah, asosiasi, BPOM, perguruan tinggi, lokapasar, ritel, dan industri besar. Sebagai bagian dari program tersebut, mereka memfasilitasi booth dalam kegiatan pre-event temu bisnis di Jakarta Utara.

“Kehadiran booth ini berperan penting sebagai sarana pertemuan antara pelaku IKM dengan calon mitra bisnis. Untuk memperluas jejaring, membuka peluang kemitraan, dan menjajaki kerja sama yang berpotensi meningkatkan transaksi maupun investasi di sektor kosmetik nasional,” ujar Reni.

Pelaku IKM juga diberikan kesempatan untuk mengidentifikasi kebutuhan usaha bersama berbagai mitra pendukung, termasuk pemasok bahan baku, jasa maklon, penyedia kemasan, dan jaringan distribusi. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat hilirisasi bahan baku lokal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan mengatakan pihaknya akan terus memantau tindak lanjut hasil temu bisnis tersebut. Sebanyak 29 IKM kosmetik binaan tercatat mengikuti kegiatan pre-event business matching.

Budi juga menyebut para pelaku IKM telah mulai mengirimkan sampel produk kepada calon mitra potensial. Pendampingan akan terus dilakukan untuk memperkuat ekosistem industri kosmetik nasional yang mandiri dan berdaya saing.

“Saat ini para IKM telah mulai mengirimkan sampel produk kepada calon mitra potensial. Kami akan terus mengawal hasil dari pertemuan bisnis ini untuk memastikan terciptanya ekosistem industri kosmetik yang mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan,” ujar Budi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....