Kemendag Fasilitasi 31 Pelaku Usaha Ekonomi Hijau Tembus Pasar Ekspor Jepang

  • 15 Mei 2026 11:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemendag memfasilitasi 31 pelaku usaha ekonomi hijau Indonesia menjajaki pasar ekspor Jepang.
  • Business matching Indonesia-Jepang mendorong investasi, perdagangan, dan alih teknologi sektor ekonomi sirkular.
  • Produk ramah lingkungan Indonesia mendapat respons positif dari perusahaan Jepang dalam forum bisnis tersebut.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) memfasilitasi 31 pelaku usaha ekonomi hijau Indonesia dalam penjajakan bisnis dengan buyer Jepang. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memperluas akses pasar ekspor sektor ekonomi hijau.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Fajarini Puntodewi menyatakan business matching tersebut merupakan langkah taktis untuk memanfaatkan kunjungan delegasi Jepang. Kegiatan itu dilakukan guna mendorong kemitraan bisnis dan investasi pada sektor ekonomi sirkular.

“Melalui fasilitasi seperti ini, Indonesia dapat memperkuat posisinya dalam rantai pasok global yang berbasis keberlanjutan. Kami optimis bahwa melalui kolaborasi ini, pelaku usaha Indonesia akan memperoleh peluang lebih besar,” kata Puntodewi di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.

Para peserta berasal dari subsektor produk daur ulang, barang ramah lingkungan, hingga jasa pengelolaan lingkungan. Keterlibatan mereka menunjukkan perkembangan ekosistem industri hijau di Indonesia.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Sesditjen PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Sugih Rahmansyah mengatakan business matching tersebut menjadi jembatan konkret bagi pelaku usaha Indonesia dengan mitra Jepang. Kegiatan itu juga dirancang untuk mempertemukan inovasi lokal dengan kebutuhan teknologi tinggi Jepang.

“Business matching ini menjadi jembatan konkret bagi pelaku usaha Indonesia untuk terhubung dengan mitra Jepang. Kami mendorong agar pertemuan ini dapat menghasilkan kerja sama nyata, baik dalam bentuk investasi, perdagangan, maupun alih teknologi,” ujar Sugih.

Sugih mengatakan Jepang memiliki keunggulan dalam teknologi, efisiensi, dan praktik ekonomi sirkular. Sementara itu, Indonesia terus mengembangkan ekonomi hijau dan transisi energi.

Menurut Sugih Rahmansyah, kolaborasi dengan Jepang diharapkan mendorong alih teknologi pada sektor ekonomi hijau. Kerja sama tersebut mencakup pengelolaan limbah dan praktik industri berkelanjutan.

“Melalui kolaborasi ini, kami berharap terjadi transfer teknologi dari Jepang ke Indonesia. Kami harapkan ada tindak lanjut dalam pengelolaan limbah menjadi energi, sistem pengelolaan sampah perkotaan, serta praktik industri berkelanjutan,” kata Sugih.

Perwakilan PT Rafandra Eternal Nusantara Elisabeth mengatakan pertemuan tatap muka dengan mitra Jepang memberikan nilai tambah dibanding forum daring. Perusahaannya memproduksi spons alami berbahan limbah pembibitan gambas sebagai alternatif spons plastik.

Sejumlah perusahaan Jepang menunjukkan ketertarikan terhadap produk tersebut untuk kebutuhan riset dan pengembangan. Produk ramah lingkungan itu juga telah dipasarkan ke Korea Selatan, Italia, dan sejumlah wilayah di Amerika Serikat melalui platform digital.

“Pertemuan langsung dengan calon mitra Jepang memberikan nilai tambah dibandingkan forum sebelumnya yang umumnya dilakukan secara daring. Sejumlah perusahaan Jepang menunjukkan ketertarikan, khususnya untuk kebutuhan riset dan pengembangan,” ujar Elisabeth.

Chief Financial Officer (CFO) Parongpong Raw Lab Veran mengatakan forum tersebut membuka peluang kolaborasi dengan mitra Jepang. Perusahaannya mengolah sampah residual seperti jaring bekas nelayan menjadi furnitur dan material bangunan.

Veran mengatakan perusahaan Jepang memberikan respons positif terhadap produk berbahan limbah yang ditawarkan. Kehadiran mitra Jepang juga membuka peluang kolaborasi pada sektor lingkungan, khususnya kelautan.

“Partisipasi dalam forum yang difasilitasi Kemendag ini membuka peluang kolaborasi dengan mitra Jepang yang memiliki perhatian tinggi terhadap isu lingkungan. Kami terkesan dengan kehadiran berbagai perusahaan Jepang dan respons positif terhadap produk yang kami tawarkan,” ujar Veran.

Kegiatan bertajuk Business Matching Sessions Indonesia-Japan merupakan bagian dari rangkaian The 2nd Indonesia-Japan Environment Week 2026. Acara tersebut diselenggarakan melalui kolaborasi dengan ASEAN-Japan Centre (AJC).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....