Kemendag Gelar Campuspreneur, Cetak Eksportir Muda di Lingkungan Kampus
- 08 Mei 2026 09:58 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Perdagangan menyelenggarakan lokakarya Campuspreneur di Telkom University untuk mencetak eksportir muda yang mampu bersaing di pasar global dan menciptakan lapangan kerja baru.
- Program Campuspreneur dijalankan melalui empat pilar utama, yaitu peningkatan kapasitas, pengembangan inovasi, pembukaan akses pasar, serta penguatan kemitraan strategis yang terintegrasi.
- Kemendag memfasilitasi pertemuan bisnis daring dengan 46 perwakilan perdagangan luar negeri guna menghubungkan pelaku usaha dengan pembeli potensial di kancah internasional.
RRI.CO.ID, Bandung - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyelenggarakan lokakarya Campuspreneur guna memperkuat ekosistem wirausaha muda yang berorientasi pada ekspor. Kegiatan strategis ini berlangsung di Auditorium Telkom University dengan melibatkan puluhan pelaku usaha dan mahasiswa.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kemendag Fajarini Puntodewi menyatakan program ini bertujuan mencetak eksportir muda. Puntodewi menegaskan sinergi antara akademisi dan pemerintah sangat krusial dalam meningkatkan daya saing produk nasional.
Puntodewi menjelaskan bahwa lokakarya tersebut merupakan bagian dari penguatan Program Campuspreneur yang sudah berjalan. Upaya ini diharapkan mampu melahirkan pengusaha muda yang sanggup menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
“Lokakarya ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan mitra internasional. Kami ingin mendorong lahirnya wirausaha muda yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan,” ujar Puntodewi di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Sugih Rahmansyah menyebut Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung ekonomi. Sugih menekankan bahwa lingkungan kampus memiliki potensi besar untuk melahirkan pelaku usaha berorientasi global.
Sugih mengungkapkan bahwa Program Campuspreneur dirancang melalui empat pilar utama guna memaksimalkan potensi kewirausahaan. Empat pilar tersebut mencakup peningkatan kapasitas, pengembangan inovasi, pembukaan akses pasar, serta penguatan kemitraan strategis.
“Melalui Program Campuspreneur, kami ingin membangun ekosistem kewirausahaan muda yang terintegrasi. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan siap mengisi pasar dalam negeri dan menembus pasar ekspor,” kata Sugih.
Kementerian Perdagangan memfasilitasi pertemuan bisnis secara daring dengan melibatkan 46 Perwakilan Perdagangan di luar negeri. Skema ini bertujuan menghubungkan para pelaku usaha kategori pengekspor mapan dengan pembeli potensial di berbagai negara.
Sugih meyakini bahwa kesiapan ekspor memerlukan proses pembelajaran serta pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan. Seluruh peserta diminta memanfaatkan kesempatan ini sebagai sarana membangun jejaring bisnis yang lebih luas dan profesional.
Sugih mengingatkan bahwa kesuksesan menembus pasar dunia tidak dapat dibangun secara instan oleh para pelaku usaha. Kolaborasi antar pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam memastikan keberlanjutan pengiriman produk kerajinan ke luar negeri.
“Kami percaya bahwa kesiapan ekspor tidak dibangun secara instan, tetapi melalui proses pembelajaran, pendampingan, dan kolaborasi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, kami mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan lokakarya ini sebaik-baiknya,” ujar Sugih.
Pemilik Abah Sorgum Neneng Supriati Ningsih mengapresiasi sesi konsultasi yang diberikan oleh Indonesia Design Development Center (IDDC). Neneng merasa mendapatkan banyak masukan teknis untuk memperbaiki kemasan produk agar lebih menarik bagi konsumen.
Neneng menilai bahwa narasi mengenai produk lokal harus ditonjolkan guna memperkuat nilai jual di pasar. Pemanfaatan bahan pangan alternatif seperti sorgum memiliki peluang besar karena merupakan kekayaan alam yang sangat berharga.
Neneng menyebut bahwa dukungan dari para tenaga ahli sangat membantu dalam menonjolkan keunikan produknya. Ia optimis perbaikan kualitas desain akan mempercepat penetrasi produk olahan pangan menuju pasar internasional yang kompetitif.
“Dari sesi konsultasi IDDC, kami mendapat banyak masukan untuk memperbaiki kemasan, memperkuat storytelling mengenai sorgum. Serta menonjolkan keunikan produk karena sorgum ini sebenarnya merupakan harta karun yang memiliki potensi besar,” ujar Neneng.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....