Menperin Pacu Pertumbuhan Industri Hijau lewat Akademi Komunitas Bambu
- 11 Mei 2026 11:51 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Perindustrian memacu industri hijau melalui pembentukan Akademi Komunitas Bambu (AKB) guna memperkuat struktur industri dari hulu hingga hilir menggunakan material terbarukan.
- Program AKB tahun 2026 fokus pada pembentukan pusat logistik serta pelatihan SDM unggul di Kabupaten Bangli untuk menjamin ketersediaan bahan baku bambu siap pakai.
RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, akan memacu pertumbuhan industri hijau melalui program Akademi Komunitas Bambu (AKB). Program tersebut untuk bertujuan memperkuat struktur industri nasional dari sektor hulu hingga hilir.
Menurut Agus, bambu merupakan komoditas terbarukan dengan potensi nilai tambah. Ini juga menjadi salah satu material penting dalam pengembangan industri hijau di Indonesia.
Bambu dapat dimanfaatkan pada industri konstruksi, furnitur, dan produk kerajinan. Menperin menyebutkan pemerintah akan menyiapkan bahan baku untuk mendukung kebutuhan sektor hilir.
"Pengembangan industri bambu sejalan dengan arah kebijakan industri hijau,” ujarnya, Minggu 10 Mei 2026. “Ini karena bambu memiliki prospek besar untuk industri konstruksi, furnitur, dan kerajinan.”
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro, Putu Juli Ardika, memaparkan capaian program pada tahun sebelumnya. Menurut dia, program tersebut telah menghasilkan 25 master bambu melalui skema pelatihan untuk pelatih.
Program tersebut membentuk komunitas sumber daya manusia pada sektor industri bambu di berbagai daerah. Selain itu berfokus pada pembentukan pusat logistik bambu sebagai penyedia bahan baku bagi industri.
“Program AKB dirancang untuk membangun komunitas SDM unggul yang mampu menjadi penggerak pengembangan industri bambu di daerah,” ujar Putu. “Fokus pengembangannya adalah untuk membentuk pusat logistik bambu penyedia bahan baku siap pakai.”
Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, menjadi lokasi pelaksanaan program karena memiliki lahan dan mesin pengolahan bambu. Program tahun anggaran 2026 mencakup penguatan teknik pascapanen dan proses pengawetan bambu.
Kurikulum pelatihan terdiri atas 30 persen teori dan 70 persen praktik lapangan. Peserta diprioritaskan berasal dari penyedia bahan baku yang dipersiapkan menjadi pelatih di wilayah masing-masing.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berencana memperluas program hingga ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selain itu dijajaki kerja sama dengan sektor swasta melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan.
Pembangunan fasilitas asrama pelatihan diupayakan melalui kerja sama dengan perusahaan swasta. Kemenperin juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait pelaksanaan program industri bambu.
Putu menyebut pengembangan industri bambu melibatkan pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Industri bambu nasional diarahkan untuk mendukung pembukaan lapangan kerja dan kegiatan industri berbasis sumber daya alam terbarukan.
"Kami berharap industri bambu nasional dapat berkembang menjadi salah satu sektor unggulan berbasis sumber daya alam terbarukan,” ujarnya. “Yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing industri nasional.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....