Perkuat Sektor Industri, Kemenperin Akselerasi Pendidikan Vokasi
- 01 Mei 2026 13:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pendidikan vokasi dipercepat untuk memperkuat daya saing sektor industri.
- Kemenperin mengelola berbagai lembaga vokasi dan mencetak ribuan lulusan kompeten dengan dukungan sertifikasi industri.
- Program reskilling dan upskilling diprioritaskan untuk menghadapi transformasi digital dan menjaga serapan tenaga kerja manufaktur.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pembangunan sumber daya manusia industri merupakan kunci pertumbuhan ekonomi. Agus menyebut penguatan kompetensi tenaga kerja sangat krusial dalam menjaga momentum sektor manufaktur di kancah global.
Agus memaparkan bahwa sektor manufaktur konsisten menjadi motor penggerak utama bagi perekonomian negara Indonesia. Menurut Agus, percepatan pendidikan vokasi harus terus dilakukan guna menjawab tantangan penguasaan teknologi digital pada era sekarang.
“Industri manufaktur selama ini konsisten menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional. Penguatan SDM industri harus terus kita akselerasi melalui pendidikan vokasi, pelatihan berbasis kebutuhan industri, serta penguasaan teknologi digital,” kata Agus di Jakarta, Jumat, 1 Mei 2026.
Unit kerja di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) telah menyelenggarakan program pelatihan secara masif. Kementerian Perindustrian mengelola 11 politeknik, 2 akademi komunitas, dan 9 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat ini.
Lembaga pendidikan di bawah binaan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sukses mencetak 5.472 lulusan berkompeten sepanjang tahun 2025 lalu. Pendaftaran Jalur Penerimaan Vokasi Industri (JARVIS) kini resmi dibuka bagi calon bibit unggul industri.
“Bahkan, dalam rangka mendukung pengembangan karier tenaga kerja industri, BPSDMI telah bekerja sama dengan 48 Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Untuk memfasilitasi sertifikasi kompetensi tenaga kerja industri,” ucap Agus.
Kemenperin juga memberikan perhatian besar terhadap program peningkatan keterampilan atau upskilling bagi para pekerja industri manufaktur. Langkah ini sangat penting agar tenaga kerja lokal mampu beradaptasi dengan sistem otomatisasi teknologi.
Transformasi digital pada sektor perindustrian membutuhkan kesiapan mental serta keahlian teknis dari setiap individu tenaga kerja. Agus menilai program reskilling menjadi prioritas utama supaya daya saing buruh Indonesia tetap relevan terhadap perubahan.
“Dalam menghadapi era transformasi digital, Kemenperin turut aktif melaksanakan program reskilling dan upskilling bagi pekerja industri. Upaya ini dilakukan guna memastikan tenaga kerja Indonesia mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” ujar Agus.
Sektor industri pengolahan nonmigas tercatat berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 20,26 juta orang pada Agustus 2025. Angka tersebut menjadi level tertinggi dalam sejarah penyerapan lapangan kerja di sektor manufaktur nasional.
Pemerintah memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh buruh yang menjadi tulang punggung bagi stabilitas produktivitas industri. Agus berharap para pekerja terus meningkatkan semangat kerja demi memperkuat posisi tawar industri Indonesia secara internasional.
“Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pekerja industri di Indonesia. Kalian adalah tulang punggung industri nasional,” kata Agus.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Doddy Rahadi menyatakan lulusan vokasi memiliki kemampuan teknis mumpuni. Doddy menjelaskan tingkat serapan kerja lulusan mereka langsung menyentuh angka 68 persen setelah menyelesaikan masa studi.
“Tingkat serapan lulusan ke industri pada tahun 2025 mencapai 68 persen sesaat setelah lulus. Dan diproyeksikan mencapai 100 persen dalam waktu enam bulan setelah kelulusan,” ujar Doddy.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....