Dirut Krakatau Steel Yakini Industri Baja Nasional Makin Mandiri

  • 30 Apr 2026 19:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kolaborasi dengan mitra strategis memungkinkan adopsi teknologi manufaktur yang efisien dan hemat energi.
  • Krakatau Steel juga berupaya mengurangi impor baja secara bertahap sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan aset perusahaan
  • Kemandirian industri baja nasional diyakini semakin kokoh serta mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional

RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur Utama (Dirut) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Akbar Djohan meyakini, industri baja nasional akan semakin mandiri melalui penguatan hilirisasi dan kolaborasi teknologi. Keyakinan tersebut disampaikan seiring dimulainya proyek Hilirisasi Nasional Fase 2 sebagai bagian strategi memperkuat ketahanan industri nasional.

Proyek tersebut diresmikan Presiden RI Prabowo Subianto melalui groundbreaking sebagai bagian dari sembilan proyek strategis nasional yang diluncurkan pemerintah. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan kapasitas produksi baja nasional di tengah dinamika global.

Dalam proyek ini, Krakatau Steel Group berperan sebagai pilar utama melalui pembangunan fasilitas produksi slab baja karbon berkapasitas besar. Selain itu, pengembangan fasilitas slab stainless steel di Morowali dilakukan melalui sinergi bersama mitra strategis di bawah koordinasi Danantara.

Akbar menegaskan, kolaborasi dengan mitra strategis memungkinkan adopsi teknologi manufaktur yang efisien dan hemat energi. “Kolaborasi bersama mitra strategis ini melalui penguatan teknologi mutakhir dan optimalisasi sumber daya lokal akan memperkuat ketahanan industri baja nasional,” ujar Akbar dalam keterangan pers tertulis, Rabu, Kamis, 30 April 2026.

Ia menambahkan, pemanfaatan bahan baku domestik menjadi faktor penting dalam membangun industri baja nasional yang berdaya saing. “Pemanfaatan bahan baku domestik adalah kunci utama membangun industri yang mandiri, efisien, dan berkelanjutan,” kata Akbar.

Lebih lanjut, langkah hilirisasi ini dinilai mampu memperkuat rantai pasok nasional agar lebih resilien menghadapi potensi gangguan global. Risiko geopolitik seperti potensi gangguan jalur logistik di kawasan Selat Hormuz menjadi perhatian dalam memperkuat strategi industri nasional.

Optimalisasi proyek dilakukan di kawasan industri terintegrasi Krakatau Steel di Cilegon dengan dukungan infrastruktur logistik dan energi lengkap. Integrasi tersebut memungkinkan efisiensi produksi serta distribusi sehingga meningkatkan daya saing industri baja nasional di pasar global.

Melalui proyek ini, lanjutnya, Krakatau Steel juga berupaya mengurangi impor baja secara bertahap sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan aset perusahaan. Transformasi ini menjadi bagian strategi perusahaan dalam membangun ekosistem industri baja terintegrasi dari hulu hingga hilir nasional.

"Ke depan, Krakatau Steel menargetkan penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus mendukung pembangunan industri berkelanjutan. Dengan langkah tersebut, kemandirian industri baja nasional diyakini semakin kokoh serta mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama Proyek Hilirisasi Nasional Fase 2 di kawasan Kilang Pertamina RU IV Cilacap, Kamis, 30 April 2026.

Proyek ini merupakan satu dari sembilan proyek strategis nasional yang diluncurkan serentak guna memperkuat ketahanan industri dalam negeri.

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk atau Krakatau Steel Group hadir sebagai pilar utama melalui dua proyek investasi strategis bersama mitra industri.

Proyek tersebut berlokasi di Cilegon untuk pengembangan baja karbon serta di Morowali guna pengembangan baja tahan karat.

Proyek pertama mencakup pembangunan fasilitas produksi slab baja karbon berkapasitas 1,5 juta ton per tahun dengan investasi USD 200 juta. Sementara itu, proyek kedua di bawah koordinasi Danantara berupa fasilitas produksi slab stainless steel berkapasitas 1,2 juta ton per tahun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....