Ketahanan Energi Indonesia Diyakini Kuat di Tengah Konflik Timur Tengah

  • 27 Apr 2026 20:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketahanan energi Indonesia dinilai cukup kuat di tengah krisis harga energi global sebagai dampak konflik di Timur Tengah
  • Indonesia tidak bergantung pada Selat Hormuz. Pasokan energi Indonesia dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz hanya 20 persen
  • Menko Airlangga juga menekankan kondisi fundamental perekonomian Indonesia tetap terjaga. Meski ketidakpastian dan tekanan global makin tinggi

RRI.CO. ID, Jakarta – Ketahanan energi Indonesia dinilai cukup kuat di tengah krisis harga energi global sebagai dampak konflik di Timur Tengah. Sejauh ini, pemerintah hanya menaikkan harga BBM non-subsidi, sedangkan harga BBM subsidi tidak berubah.

“JP Morgan Asset Management menempatkan Indonesia di peringkat kedua sebagai negara paling tahan terhadap guncangan energi global,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara “Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI)” di gedung Bank Indonesia di Jakarta, Senin, 27 April 2026. Menurutnya, ketahanan energi Indonesia kuat karena tidak bergantung pada kondisi Selat Hormuz.

Menko Airlangga mengungkapkan pengalamannya saat menghadiri pertemuan ASEAN Zero Emission bersama 12 negara lainnya. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi

“Takaichi mengatakan 70 persen negara Asia bergantung pada Timur Tengah, pada Selat Hormuz dalam pasokan energinya. Indonesia tidak, pasokan energi Indonesia dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz hanya 20 persen,” ujar Menko Airlangga.

Indonesia juga menggunakan beragam sumber energi untuk pasokan listriknya, mulai dari gas hingga batu bara. “Sehingga memperkuat daya tahan kita di bidang energi,” ucapnya.

Pada kesempata itu, Menko Airlangga juga menekankan kondisi fundamental perekonomian Indonesia tetap terjaga. Meski ketidakpastian dan tekanan global makin tinggi.

Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi di triwulan I 2026 bisa mencapai 5,5 persen, inflasi sekitar 3,48 persen. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih tinggi di 122,9 dan neraca perdagangan surplus 70 bulan beruntun sekitar Rp148,2 triliun.

“Kita lihat ekspor ke Amerika pada tahun lalu (2025) meningkat hingga doble digit. Jadi, walau ada isu pengenaan tarif AS, Indonesia masih dapat mempertahankan pasar Amerika,” ujjar Menko Airlangga.

Tapi saat ini, Indonesia termasuk satu dari 16 negara yang terkena investigasi oleh otoritas perdagangan AS. AS melakukan investigasi atas dasar section 301 terhadap negara mitra dagangnya yang diaggap menerapkan praktik tidak asil.

“Sementara itu, konsumsi dalam negeri masih kuat, 54 persen terhadap PDB .Utang luar negeri Indonesia sebesar 29,9 persen dari PDB,” kata Menko Airlangga.

Surat Berharga Negara (SBN) juga didominasi investor domestik, hingga 87,4 persen. Sedangkan porsi asing nya hanya sebesar 12,6 persen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....