Kelas Menengah Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi di tengah Tekanan Global

  • 16 Apr 2026 11:33 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Masyarakat kelas menengah dinilai berperan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah masih tingginya tekanan global.
  • Peran strategis kelas menengah melalui aktivitas ekonomi dan konsumsi rumah tangga telah menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
  • Kontribusi konsumsi rumah tangga pada Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 54-55 persen dan menjadi penopang daya tahan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.

RRI.CO.ID, Jakarta - Masyarakat kelas menengah berperan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah masih tingginya tekanan global. Ini dilakukan melalui aktivitas ekonomi dan konsumsi domestik yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Kalau dilihat dari share-nya terhadap ekonomi kita, betapa pentingnya peran kelas menengah di Indonesia," kata Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, Kamis, 16 April 2026. Terutama pada perbelanjaan dan konsumsi rumah tangga.

Menurut Susiwijono, saat ini kontribusi konsumsi rumah tangga pada Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai sekitar 54-55 persen. Hal ini, lanjut dia, membuat ekonomi Indonesia sampai saat ini mampu bertahan di tengah dinamika global.

Susiwijono mengakui konflik geopolitik memang memengaruhi sektor energi dan logistik, serta berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dunia. "Namun, struktur ekonomi Indonesia relatif lebih resilien karena tidak terlalu bergantung pada perdagangan luar negeri," ucapnya.

Menurut Susiwijono, kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah saat ini sekitar 66,35 persen dari total 185,35 juta penduduk Indonesia. Merekalah yang menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga dan daya beli nasional.

Namun yang patut dicermati adalah pergeseran proporsi kelas menengah ke kelompok menuju kelas menengah. "Ini mengindikasikan tekanan terhadap daya beli, terutama di wilayah perkotaan yang menjadi domisili mayoritas kelas menengah," ujarnya.

Kelas menengah juga mengalami perubahan karakteristik, antara lain dengan pergeseran lapangan pekerjaan yang semakin didominasi sektor jasa. Selain itu, ada kecenderungan menurunnya proporsi pekerja formal.

Pola konsumsi kelompok tersebut lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan nonmakanan seperti perumahan, transportasi, dan gaya hidup. "Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah dalam perumusan kebijakan ke depan," kata Susiwijono menegaskan.

Sesmenko juga menyinggung soal fenomena Chilean Paradox, di mana pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu menjamin pemerataan kesejahteraan. Ini menjadi pengingat bagi pemerintah agar kebijakan ekonomi yang dibuat berpihak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kebijakan tersebut diwujudkan dalam berbagai program yang menyasar seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah. Misalnya bantuan sosial bagi kelompok rentan.

Sedangkan untuk masyarakat kelas menengah diberikan berbagai stimulus seperti insentif perpajakan serta dukungan sektor perumahan melalui FLPP. Termasuk pula insentif otomotif dan subsidi energi yang ditujukan untuk menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi kelompok menengah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....