Hari Ini, Rupiah Diperkirakan Masih akan Tertekan Dolar AS
- 16 Apr 2026 07:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS dalam perdagangan hari ini
- Analis Pasar uang menyebut trend negatif rupiah masih akan berlanjut karena faktor eksternal dan domestik
- Analis Pasar Uang Lukman Leong memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.100-Rp17.200 per dolar AS
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS dalam perdagangan hari ini. Pada Rabu kemarin, rupiah ditutup melemah 0,12 persen menjadi Rp17.130 per dolar AS.
Rupiah pada Rabu kemarin, kembali berada di level terendah sepanjang masa. Analis Pasar uang menyebut trend negatif rupiah masih akan berlanjut hari ini.
"Rupiah diperkirakan masih akan tertekan dan berpotensi melemah terhadap dolar AS," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Kamis, 16 April 2026. Meski demikian, Lukman melihat sentimen global umumnya mulai membaik.
"Tapi sentimen domestik yang masih lemah, sehingga investor cenderung menghidari rupiah. Di sisi lain, situasi geopolitik di Timur Tengah juga berubah-ubah," ujar Lukman.
Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.100-Rp17.200 per dolar AS. Sementara itu, Analis Pasar Uang lainnya, Ibrahim Assuaibi mencermati proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh sejumlah lembaga internasional.
Proyeksi tersebut, menurutnya, ikut mempengaruhi sentimen di pasar keuangan domestik. Dana Moneter International (IMF) misalnya, memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026 mencapai 5 persen.
"Angka ini lebih rendah ketimbang laporan IMF Januari lalu yang memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2027 di juga di kisaran 5,1 persen," kata Ibrahim.
Tak cuma Indonesia, IMF juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi global yang melambat menjadi 3,1 persen pada tahun 2026. "Penyebabnya, perang di Timur Tengah tahun, setelah sebelumnya pertumbuhan ekonomi tertahan karena hambatan perdagangan," ujarnya.
Selain IMF, Bank Dunia juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026. Angkanya lebih rendah jika dibandingkan dengan proyeksi Bank Dunia pada Oktober 2025 sebesar 4,8 persen.
Sementara, Asian Development Bank (ADB) memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh stabil 5,2 persen pada 2026 dan 2027. Kuatnya permintaan domestik dan belanja infrastruktur menjadi penopang utama stabilitas ekonomi di kawasan Asia Tenggara terutama Indonesia.
"Perlambatan pertumbuhan ekonomi tahun ini dipengaruhi oleh tekanan eksternal. Utamanya kenaikan harga minyak akibat blokade selat Hormuz serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional," kata Ibrahim.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....