Dampak Konflik AS-Iran ke Perekonomian Indonesia Masih Terbatas

  • 13 Apr 2026 21:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perang AS-Iran bukan hanya berdampak pada naiknya harga minyak dan perdagangan. Tapi juga merambat pada sentimen pasar keuangan, nilai tukar rupiah dan arus modal internasional
  • Namun dampaknya ke perekonomian Indonesia masih terbatas. Begitu juga dengan dampak rambatannya ke pasar keuangan domestik, dinilai masih relatif moderat
  • Menurutnya, depresiasi rupiah masih terkendali, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) masih menarik. Pandangan dan kepercayaan para investor terhadap perekonomian Indonesia juga masih terjaga

RRI.CO.ID, Jakarta - Perang AS-Iran bukan hanya berdampak pada naiknya harga minyak dan perdagangan. Tapi juga merambat pada sentimen pasar keuangan, nilai tukar rupiah dan arus modal internasional.

Namun dampaknya ke perekonomian Indonesia masih terbatas. Begitu juga dengan dampak rambatannya ke pasar keuangan domestik, dinilai masih relatif moderat.

“Fundamental perekonomian Indonesia masih memberikan optimisme. Karena dampak konflik Timur Tengah masih terbatas,” kata Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kementerian Keuangan, Noor Faisal Achmad dalam acara Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin, 13 April 2026.

Menurut Noor, di triwulan I 2026, fundamental ekonomi masih kuat ditandai dengan dengan data manufaktur masih di level ekspansi. Neraca perdagangan masih surplus, inflasi terkendali dan cadangan devisa memadai.

“Pertumbuhan kredit juga masih kuat. Hal ini menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi domestik bekerja dengan baik di tengah dinamika global,” ucap Noor.

Sedangkan di pasar keuangan, terjadi sentimen risk off ( sikap investor yang menghindari risiko) sehingga terjadi aliran keluar modal asing. “Tapi dari asesmen terbaru menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia masih relatif moderat,” ujar Noor.

Menurutnya, depresiasi rupiah masih terkendali, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) masih menarik. Pandangan dan kepercayaan para investor terhadap perekonomian Indonesia juga masih terjaga.

“Apa yang terjadi lebih disebabkan karena faktor teknikal dan bukan karena faktor fundamentalnya. Kita akan menjaga kepercayaan pasar melalui pengeloaan APBN yang hati-hati,” ujar Noor.

Dia juga mengatakan, kenaikan harga energi menjadi risiko yang harus dicermati bersama. Tapi sejauh ini, transmisinya pada laju inflasi masih dapat diredam.

“Respons kebijakan pemerintah untuk tetap menjaga stabilisasi harga energi dilakukan dengan cermat serta memperhatikan daya tahan fiskal. Ke depan, kordinasi fiskal dan moneter antara pemerintah dan BI akan terus dijaga,” kata Noor menegaskan.

Kordinasi dilakukan untuk meredam meningkatnya risiko global. Supaya sektor keuangan tetap stabil, dan perekonomian masih dapat tumbuh di tengah tekanan dan ketidakpastian seperti sekarang ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....