Ancaman Trump di Selat Hormuz Buat Rupiah Makin Lemah

  • 13 Apr 2026 20:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Meskipun melemah tipis 0,01 persen atau satu poin, menjadi Rp17.105 per dolar AS
  • Trump mengancam akan memblokade kapal-kapal yang akan masuk dan keluar dari Selat Hormuz. Garda Revolusi Iran menegaskan akan menindak keras kapal-kapal militer yang mencoba mendekati Selat Hormuz
  • Sementara itu, data indeks harga konsumen atau inflasi AS menunjukkan peningkatan tajam. Inflasi pada Maret 2026 tercatat 3,3 persen secara tahunan, sedangkan inflasi pada Februai 2026 hanya sebesar 2,4 persen

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Meskipun melemah tipis 0,01 persen atau satu poin, menjadi Rp17.105 per dolar AS mengacu pada data Bloomberg.

Pasar nampaknya masih mencermati perkembangan konflik AS-Iran. Presiden Trump kembali menunjukkan arogansinya setelah delegasi AS gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan di Pakistan.

“Trump mengancam akan memblokade kapal-kapal yang akan masuk dan keluar dari Selat Hormuz. Blokade akan dilakukan pada semua kapal,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Senin, 13 April 2026, mengutip cuitan Trump di media sosial X.

Sementara itu, Garda Revolusi Iran menegaskan akan menindak keras kapal-kapal militer yang mencoba mendekati Selat Hormuz. Iran juga menyatakan akan membatasi kapal-kapal yang keluar masuk Selat Hormuz.

Sementara itu, data indeks harga konsumen atau inflasi menunjukkan peningkatan tajam. Inflasi pada Maret 2026 tercatat 3,3 persen secara tahunan, sedangkan inflasi pada Februai 2026 hanya sebesar 2,4 persen.

“Kenaikan inflasi AS disebabkan oleh kenaikan harga energi akibat konflik AS-Iran. Kenaikan inflasi makin memperkuat ekspektasi bahwa the Fed tidak akan memangkas suku bunga dalam beberapa bulan mendatang,” ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh sejumlah institusi internasional. Baru-baru ini, Asian Development Bank merilis perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026. Dan 2027.

Menurut ADB, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 mencapai 5,2 persen secara tahunan. Pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan tahun 2025 sebesar 5,1 persen, tapi lebih rendah dari target pemerintah 3,4 persen.

“Meski prospek perekonomian Indonesia cenderung baik, ADB mewanti-wanti sejumlah risiko yang dapat mengganggu. Ketegangan geopolitik global yang belum mereda serta fluktuasi harga komoditas energi disebut masih menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi nasional,” ujar Ibrahim.

Selain itu, kebijakan moneter di negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat tetap ketat dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi itu berpotensi memicu volatilitas aliran modal di pasar keuangan negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

ADB menyarankan agar pemerintah terus mempercepat reformasi struktural guna meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional. Optimalisasi penerimaan negara dan efisiensi belanja dinilai penting untuk menjaga ruang fiskal dalam menghadapi guncangan ekonomi di masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....