ADB Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Asia Pasifik Melambat, Indonesia Stabil

  • 10 Apr 2026 14:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • ADB menyebut pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia Pasifik diperkirakan akan tumbuh 5,1 persen pada 2026, melambat dibandingkan tahun 2025 yang sebesar 5,4 persen.
  • Khusus Indonesia, pertumbuhan ekonominya diprakirakan bisa mencapai 5,2 persen di tahun 2026, lebih tinggi dibandingkan tahun 2025 yang tercatat sebesar 5,1 persen
  • Asian Development Outlook (ADO) bulan April 2026 menyatakan, perekonomian melambat akibat konflik Timur Tengah serta berlanjutnya ketidakpastian kebijakan perdagangan global

RRI.CO.ID, Jakarta – Asian Development Bank (ADB) merilis prakiraan pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. ADB memprediksi perekonomian di kawasan ini diperkirakan akan tumbuh 5,1 persen pada 2026, melambat dibandingkan tahun 2025 sebesar 5,4 persen.

Begitu pula dengan prakiraan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara, khususnya ASEAN. Di tahun 2026, pertumbuhannya diprakirakan sebesar 4,6 persen, lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang sebesar 4,8 persen.

Namun khusus Indonesia, pertumbuhan ekonominya diprakirakan bisa mencapai 5,2 persen di tahun 2026. Pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan tahun 2025 yang tercatat sebesar 5,1 persen.

Di kawasan Asean, negara yang pertumbuhan ekonominya diperkirakan meningkat di tahun ini adalah Brunei Darussalam dan Myanmar. Sedangkan pertumbuhan ekonomi negara ASEAN lainnya, diperkirakan melambat dibandingkan tahun 2025.

Grafik perbandingan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun (Foto: Dokumentasi ADB)

Asian Development Outlook (ADO) bulan April 2026 menyatakan, perekonomian melambat akibat konflik Timur Tengah. Selain itu, ketidakpastian kebijakan perdagangan global juga masih berlanjut.

“Konflik berkepanjangan di Timur Tengah menjadi risiko terbesar proyeksi pertumbuhan ekonomi di kawasan ini. Karena konflik menyebabkan tingginya harga energi dan pangan, kondisi keuangan juga lebih ketat,” kata Kepala Ekonomi ADB, Albert Park, dalam rilis ADB, Jumat, 9 April 2026.

Menurutnya, kawasan Asia Pasifik menghadapi lingkungan global yang menantang namun relatif kuat. Ketangguhannya didukung permintaan domestik yang masih bagus, pasar tenaga kerja yang stabil dan pengeluaran infrastruktur publik yang lebih tinggi.

“Untuk itu pemerintah di berbagai negara perlu menempuh kebijakan makroekonomi yang tepat demi menjaga pertumbuhan ekonomi dan menahan inflasi. Kebijakan yang diambil juga harus tepat sasaran untuk melindungi rumah tangga yang rentan,” ujar Park.

Hasil kajian ADB, konflik berkepanjangan di Timur Tengah akan berdampak pada perekonomian melalui beberapa jalur. Diantaranya melalui kenaikan harga. Gangguan pengapalan dan volatilitas keuangan.

ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2026 akan menurun menjadi 4,6 persen, dari 5 persen tahun lalu. Perekonomian India juga akan melambat menjadi 6,9 persen dari 7,6 persen tahun 2025.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....