Proyeksi IHSG Hari Ini, Rawan Koreksi dengan Kecenderungan Menguat
- 10 Apr 2026 08:24 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih akan berfluktuasi akhir pekan in, IHSG rawan terkoreksi dengan kecenderungan menguat
- Faktor yang akan mempengaruhi pergerakan IHSG adalah de-eskalasi konflik di Timur Tengah dan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih rendah tahun ini
- Bursa Saham Amerika Serikat menguat, sementara bursa saham Asia Pasifik mayoritas melemah
RRI.CO.ID, Jakarta - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih akan berfluktuasi akhir pekan ini. Sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga masih rawan terkoreksi tapi dengan kecenderungan menguat.
Hal itu disampaikan Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana dalam analisis pasar modal, Jumat, 10 April 2026. "Kami mencermati pergerakan IHSG masih relatif volatile dengan kecenderungan menguat," ujarnya.
Faktor yang akan mempengaruhi pergerakan IHSG adalah de-eskalasi konflik di Timur Tengah. Meredanya ketegangan membuat pelaku pasar bergairah kembali melakukan transaksi di pasar saham.
Tapi di dalam negeri, investor akan mencermati perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia. Lembaga internasional itu memangkas ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen.
Herditya memperkirakan IHSG hari ini jika terkoreksi akan bergerak di rentang 6.745-6.849. Jika menguat, IHSG akan berada di kisaran level 7.497-7.677.
Pada Kamis kemarin, IHSG ditutup menguat 0,39 persen ke level 7.307,58. Penguatan IHSG disertai aliran keluar modal asing ditandai jual saham bersih oleh investor asing.
Nilai net sell (jual saham) oleh investor asing pada Kamis kemarin tercatat sebesar Rp1,77 triliun. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBCA, BBRI, BMRI, BUMI, dan BRPT.
Sementara itu, bursa saham di Wall Street, AS ditutup menguat. "Penguatan ditopang optimisme pelaku pasar bahwa gencatan senjata AS dan Iran dapat bertahan," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.
Indeks S&P 500 naik 0,62 persen, Nasdaq Composite menguat 0,83 persen dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,58.persen. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 3 persen menjadi USD97,87 per barel. Sedangkan harga minyak Brent menguat lebih dari 1 persen menjadi USD95,92 per barel.
Di kawasan Asia-Pasifik, bursa saham di tutup beragam, dengan mayoritas melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,73 persen dan indeks Hang Seng melemah 0,54 persen.
Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 1,61 persen, namun indeks ASX 200 Australia naik 0,24 persen. Pelemahan mayoritas bursa saham Asia dipengaruhi perkembangan gencatan senjata AS-Iran.
"Kemarin, Iran menuding AS melanggar kesepakatan, Karen zionis Israel masih melakukan serangan ke Lebanon. Karena penghentian serangan zionis Israel ke semua front termasuk Lebanon menjadi salah satu butir kesepakatan gencatan senjata," ucap Fanny.
Akibatnya, Iran kembali menutup Selat Hormuz dan lalu lintas kapal kembali tertahan. Iran juga menyatakan menolak melanjutkan negosiasi dengan AS dengan mediasi Pakistan jika zionis Israel masih menyerang Lebanon.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....