Pemerintah akan Perkuat Ekosistem Industri Emas Perhiasan

  • 07 Apr 2026 13:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem emas nasional secara terintegrasi
  • Industri perhiasan emas Indonesia memiliki peran strategis tidak hanya berorientasi ekspor tetapi juga menyerap banyak tenaga kerja
  • Direktur PT UBS, Eddy Yahya menyampaikan apresiasi terhadap berbagai kebijakan Pemerintah. Antara lain implementasi Bea Keluar emas yang dinilai memberikan dukungan terhadap penguatan industri dalam negeri

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem emas nasional secara terintegrasi. Hal itu dikarenakan industri perhiasan emas memiliki peran strategis tidak hanya berorientasi ekspor tetapi juga menyerap tenaga kerja.

"Pemerintah akan terus mengkonsolidasikan kesinambungan hulu hingga hilir. Sehingga daya saing ekosistem emas secara keseluruhan dapat terus ditingkatkan," kata Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan dalam kunjungan ke PT Untung Bersama Sejahtera (UBS), Senin, 6 April 2026.

UBS merupakan salah satu market leader produsen perhiasan emas di Indonesia. Kunjungannya, kata Ferry, untuk memperoleh gambaran langsung kondisi industri perhiasan serta mendiskusikan arah penguatan kebijakan ke depan.

Komoditi emas menjadi komoditi penting di tengah volatilitas harga akibat tensi geopolitik. Sementara emas menjadi salah satu pilihan aset investasi bagi masyarakat Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Direktur PT UBS, Eddy Yahya menyampaikan apresiasi terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang sudah dijalankan. Salah satunya implementasi Bea Keluar emas yang dinilai memberikan dukungan terhadap penguatan industri dalam negeri.

Eddy yang juga Ketua Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI) menyampaikan, sejumlah masukan strategis kepada pemerintah. Khususnya terkait penyempurnaan kebijakan perpajakan dan penguatan struktur pasar emas domestik.

Pemerintah menerima masukan tersebut sebagai upaya bersama menciptakan sistem perpajakan yang lebih efisien. Selain untuk mendukung iklim usaha, serta memperkuat daya saing industri perhiasan nasional secara berkelanjutan.

Menurut Ferry dinamika geopolitik global turut memengaruhi kinerja perdagangan industri perhiasan. Tekanan tersebut juga dirasakan UBS, yang menurut Eddy, ekspornya ke Dubai sebagai pasar utama, mulai mengalami hambatan.

Meski demikian, permintaan emas perhiasan dalam jangka menengah masih positif, khususnya permintaan dalam negeri. "Budaya menabung dan berinvestasi emas di Indonesia telah mengakar kuat, serupa dengan di India," ucap Eddy.

Pelaku usaha emas dan perhiasan, tambahnya, masih optimis permintaan akan kembali membaik, seiring normalisasi kondisi pasar. Karenanya, Eddy menekankan pentingnya penguatan sisi pasokan dalam negeri, diantaranya melalui pengembangan kegiatan usaha bullion.

“Kami berharap kegiatan usaha bullion dapat mendukung ketersediaan bahan baku emas yang lebih efisien dan kompetitif bagi industri,” ujarnya. Karakteristik industri emas perhiasan, lanjut Eddy memiliki keunikan karena mengombinasikan teknologi manufaktur modern.

Kombinasi itu berupa otomasi dan desain digital dengan keterampilan craftsmanship yang membutuhkan ketelitian dan kreativitas tinggi. Dengan demikian menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....