Pelemahan Rupiah Berlanjut karena Tekanan Faktor Geopolitik dan Domestik

  • 07 Apr 2026 10:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa 7 April 2026 pada Rp17.077 per dolar AS.
  • Faktor yang akan mempengaruhi pergerakan rupiah antara lain penguatan dolar AS terhadap beberapa mata uang negara lain.
  • Konflik yang belum mereda juga akan berpengaruh meskipun ada rencana gencatan senjata. Sementara faktor dalam negeri dipengaruhi oleh kekhawatiran defisit fiskal.

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pembukaan perdagangan Selasa 7 April 2026. Menurut Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,25 persen menjadi Rp17.077 per dolar AS .

Nilai tukar rupiah pada Senin 6 April 2026 ditutup melemah menjadi Rp17.035 per dolar AS. Sejumlah analis pasar uang memperkirakan hal ini masih akan berlanjut hingga Selasa 7 April 2026.

“Melihat pergerakannya, posisi rupiah masih cenderung melemah terhadap dolar AS,” kata Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana. Menurut dia, rupiah saat ini sudah mencapai target minimal di area Rp17.032-Rp17.044 per dolar AS.

Herditya mengatakan apabila rupiah kembali menembus area Rp17.044, maka target pelemahan berikutnya berada pada kisaran Rp17.070-Rp17.118 per dolar AS. “Namun, sisi positifnya rupiah berpeluang menguat ke rentang Rp16.983-17.000," ucapnya.

Ini disebabkan sejumlah faktor yang bakal mempengaruhi pergerakan rupiah. Di antaranya penguatan dolar AS terhadap beberapa mata uang negara lain.

Konflik yang belum mereda juga akan berpengaruh meskipun ada rencana gencatan senjata. "Di dalam negeri, ada kekhawatiran inflasi tinggi akibat harga minyak mentah dan juga kondisi fiskal Indonesia," ujarnya.

Hal serupa disampaikan analis pasar uang dari Valbury Sekuritas, Fikri C.Permana. “Kemungkinan ada tekanan lanjutan terhadap rupiah, sehingga JISDOR akan terdepresiasi ke posisi Rp17.050 per dolar AS," ucapnya.

JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) adalah kurs referensi transaksi dolar AS terhadap rupiah antarbank di pasar valas Indonesia. Transaksinya dipantau melalui sistem monitoring transaksi valuta asing terhadap rupiah (Sismontavar) di Bank Indonesia (BI) secara real time.

Fikri menambahkan ketegangan geopolitik yang mulai menunjukkan indikasi meluas mempengaruhi posisi rupiah terhadap dolar AS. Teheran telah menyatakan menolak proposal perdamaian yang diajukan AS.

"Harga minyak juga sudah kembali naik,” ujarnya. Sementara di dalam negeri, defisit fiskal Indonesia per Maret 2026 sudah mencapai 0,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....