BI Waspadai Inflasi setelah Periode Lebaran
- 20 Mar 2026 23:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bank Indonesia mewasdai inflasi bulan Maret pasca lebaran 2026
- Perang Timur Tengah akan memicu gangguan pasokan dan kenaikan harga komoditas
- Musim kemarau bulan April 2026 dapat memicu kenaikan harga barang bergejolak (volatile food) seperti cabai-cabaian, jagung dan beras
RRI.CO.ID, Jakarta – Bank Indonesia (BI) mewaspadai kenaikan harga-harga barang atau inflasi pasca lebaran. Setidaknya ada dua pemicu inflasi di bulan Maret ini, yakni kenaikan harga minyak dan datangnya musim kemarau.
“Kami akan terus melakukan monitoring perkembangan perang Timur Tengah eskalasinya seperti apa. Ini tentunya akan mempunyai dampak kepada inflasi terutama dari jalur rantai pasokan maupun dari kenaikan harga komoditas,” kata Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, dikutip pada Jumat, 20 Maret 2026.
| Baca juga: Lebaran yang Sunyi di Masjid Al-Aqsa |
Untuk saat ini, menurut Aida, dampak perang Timur Tengah pada perekonomian masih terkelola dengan baik. Hal lain yang akan menjadi perhatian BI adalah harga barang bergejolak (volatile food) sebagai dampaik musim kemarau.
BMKG memperkirakan awal musim kemarau dimulai bulan April mendatang. “Ada keterangan dari BMKG musim kemarau tahun ini akan lebih kering dan datangnya lebih awal,” ucap Aida.
Musim kemarau yang lebih kering ini berpotensi mengganggu panen. Utamanya komoditas holtikultura seperti cabai-cabaian, jagung, maupun beras.
Pada bulan Februari 2026 tingkat inflasinya tercatat 4,76 persen, sedikit lebih tinggi dari target sasaran 2,5±1 persen. Tingginya inflasi bulan Februari dampak dari kebijakan diskon tariff listri hingga 50 persen pada Januari dan Februari.
Diskon tarif listrik berakhir pada bulan Maret ini. “Sehingga inflasi bulan Maret secara keseluruhan diperkirakan di kisaran sasaran 2,5±1 persen,” kata Aida menutup keterangannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....