Tanggapi Rating Fitch, BI Optimis Kondisi Ekonomi Indonesia Masih Solid

  • 05 Mar 2026 12:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Bank Indonesia (BI) menanggapi laporan terbaru lembaga pemeringkat Fitch Ratings mengenai sovereign credit rating Indonesia. Ini adalah penilaian terkait kelayakan kredit dan risiko gagal bayar dalam memenuhi kewajiban utang jangka panjang.

Laporan Fitch yang dirilis Rabu 4 Maret 2026 itu mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level BBB. Lembaga pemeringkat itu juga melakukan penyesuaian outlook kredit Indonesia menjadi negatif.

Afirmasi rating pada level BBB mencerminkan stabilitas dan prospek makroekonomi Indonesia yang solid. Rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) relatif rendah dengan ketahanan eksternal yang memadai.

Sementara itu, revisi outlook yang negatif dipengaruhi pandangan Fitch terhadap ketidakpastian kebijakan di Indonesia. Ini ditambah kekhawatiran Fitch terhadap konsistensi dan kredibilitas kebijakan di negara ini.

Merespons laporan Fitch, Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan hal ini merefleksikan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Menurut dia, outlook yang negatif tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia.

"Prospek perekonomian Indonesia tetap kuat, tercermin dari pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap solid di tengah ketidakpastian global,” ujarnya. “Inflasi tetap terkendali termasuk inflasi inti yang tetap rendah, serta nilai tukar rupiah yang terus diperkuat.”

Perry menambahkan stabilitas sistem keuangan masih terjaga ditopang likuiditas yang memadai. Permodalan perbankan juga terjaga pada level tinggi ditambah risiko kredit yang rendah.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia didukung digitalisasi sistem pembayaran yang meluas dengan infrastruktur stabil dan struktur industri yang sehat. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah diperkirakan akan tetap solid dan menunjukkan tren meningkat,” ujarnya.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen. Sementara itu, inflasi juga tetap terkendali sesuai sasaran target 2,5 plus minus satu persen.

Ketahanan eksternal tetap kuat ditopang neraca pembayaran Indonesia yang sehat serta kinerja neraca perdagangan yang terjaga. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 juga tetap tinggi mencapai USD154,6 miliar.

Jumlah itu setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ini juga berarti masih di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

"Kami akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Perry. Juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat komunikasi kebijakan guna menjaga kepercayaan pasar.

Rekomendasi Berita