Pelemahan Rupiah Makin Dalam, Analis: Tertekan Konflik Timur Tengah
- 04 Mar 2026 20:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih melemah makin dalam terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,12 persen atau 20 poin menjadi Rp16.892 per dolar AS.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi menyebut perang AS-Israel dan Iran masih menjadi pemicu pelemahan nilai tukar rupiah. Perang sudah memasuki hari kelima dan belum ada tanda-tanda akan mereda, malah makin memanas.
"Pelaku pasar mempertimbangkan risiko pasokan minyak di tengah konflik Timur Tengah yang meluas," kata Ibrahim dalam analisisnya, Rabu, 4 Maret 2026. Iran masih melakukan perlawanan dengan menutup Selat Hormuz dan mengancam akan menembak kapal-kapal tanker yang melintasi Selat.
Akibat ancaman itu, produsen minyak utama menambahkan premi risiko geopolitik yang signifikan ke dalam harga minyaknya. Hal itu dilakukan negara penghasil minyak besar sepeti Arab Saudi, Irak dan Uni Ermirat Arab.
"Irak bahkan dilaporkan telah mulai menghentikan produksi di ladang Rumaila, ladang minyak terbesar di negara itu. Begitu pula dengan ladang minyak di West Qurna 2 yang menghasilkan 1,2 juta barel minyak per hari,dihentikan produksinya," ujar Ibrahim.
Melihat kondisi itu, Presiden AS Donald Trump menawarkan pengawalan pada kapal komersial dan menjanjikan jalur pelayaran yang aman. "Upaya internasional untuk mengamankan jalur pelayaran, dapat meredam kenaikan harga minyak lebih lanjut," ucap Ibrahim.
Hari ini, harga minyak Brent sebesar USD82 per barel. Sedangkan harga minyak WTI di level USD75 per barel.
Di dalam negeri, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap laporan lembaga pemerintah internasional Fitch Ratings. Lembaga ini merevisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.
"Namun, peringkat kredit jangka panjang mata uang asing tetap di level BBB," kata Ibrahim mengutip laporan Fitch Ratings. Laporan itu menyebut, revisi outlook mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan.
Selain itu, menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia. Terutama di saat sentralisasi pengambilan keputusan semakin meningkat.
"Kondisi itu dinilai dapat menekan prospek fiskal jangka menengah dan melemahkan sentimen investor. Serta akan memberi tekanan terhadap ketahanan eksternal," ucap Ibrahim.
Di sisi lain, BI mengisyaratkan pemantauan ketat terhadap dampak inflasi dari kenaikan harga energi global. Langkah itu dilakukan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"BI menyatakan tetap di pasar dengan melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar Offshore (luar negeri). Termasuk melakukan transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian surat berharga (SBN) di pasar sekunder," kata ibrahim menutup analisisnya.