Rupiah Makin Loyo, BI Terus Intervensi lewat Berbagai Instrumen

  • 04 Mar 2026 10:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berlanjut pada pembukaan perdagangan Rabu 4 Maret 2026. Menurut Bloomberg, rupiah terpantau turun 0,21 persen atau 36 poin menjadi Rp16.908 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya, rupiah turun 0,02 persen atau empat poin menjadi Rp16.872 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) menyatakan masih terus memantau perkembangan situasi dan dampaknya kepada nilai tukar.

"Kami akan terus hadir menjaga stabilitas nilai tukar guna mencegah dampak meluasnya konflik Timur Tengah," kata Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti. Menurut dia, BI akan melakukan intervensi tegas dan konsisten melalui instrumen-instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Di antaranya melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore (luar negeri). Sedangkan di pasar domestik, intervensi dilakukan melalui transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF).

"Ini juga disertai dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," ucap Destry. BI menilai pelemahan rupiah saat ini masih sejalan dengan mata uang regional, yaitu sebesar 0,51 persen sejak awal 2026.

Posisi nilai tukar rupiah ditopang oleh cadangan devisa yang tetap terjaga pada level USD154,6 miliar hingga akhir Januari 2026. Selain itu, arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun ini mencapai Rp25,7 triliun.

Analis Pasar Uang, Lukman Leong, mengatakan, rupiah diperkirakan masih dalam tekanan sentimen risk off. Menurut dia, pelaku pasar masih menghindari dampak besar dari perkembangan perang AS-Israel-Iran.

“Kenaikan harga minyak mentah juga dikhawatirkan bakal membebani ekonomi global termasuk Indonesia," ucapnya. Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah ini akan bergerak ke kisaran Rp16.800-Rp16.950 per dolar AS.

Rekomendasi Berita