Lapas Makassar Buka Sanggar Batik untuk Kemandirian WBP
- 03 Okt 2026 09:15 WIB
- Makassar
RRI. CO. ID, MAKASSAR - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Makassar membuka Sanggar Batik sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), Jumat (2/10/2026). Sanggar tersebut dihadirkan sebagai ruang bagi WBP untuk mengembangkan keterampilan, kreativitas, serta mempelajari kegiatan produktif yang diharapkan dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Pembukaan Sanggar Batik dilakukan langsung oleh Kepala Lapas Kelas I Makassar, Gumilar Budirahayu, didampingi jajaran. Dalam kesempatan tersebut, Gumilar turut mencoba proses membatik pada kain sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan keterampilan warga binaan.
Melalui sanggar ini, WBP akan mendapatkan pembelajaran mengenai tahapan pembuatan batik, mulai dari mengenal motif, menggunakan alat dan bahan, hingga mengaplikasikan teknik membatik pada kain. Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan karya, tetapi juga memberikan kesempatan kepada WBP untuk mengembangkan keterampilan yang berpotensi menjadi kegiatan produktif setelah menyelesaikan masa pidana.
Gumilar Budirahayu mengatakan, pembinaan kemandirian menjadi salah satu upaya Lapas Kelas I Makassar dalam memberikan bekal kepada WBP agar memiliki keterampilan dan kesiapan menghadapi kehidupan setelah kembali ke masyarakat. “Sanggar Batik ini merupakan salah satu wujud nyata komitmen kami dalam memberikan pembinaan kemandirian kepada warga binaan. Kami ingin memberikan ruang bagi mereka untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan keterampilan yang nantinya dapat menjadi bekal setelah kembali ke masyarakat,” ujar Gumilar.
Menurut Gumilar, jajaran Lapas Kelas I Makassar akan terus mendorong berbagai program pembinaan yang produktif dan memberikan manfaat nyata bagi warga binaan. “Yang terpenting adalah bagaimana setiap proses pembinaan dapat memberikan manfaat dan membentuk kemandirian warga binaan. Dengan keterampilan yang dimiliki, kami berharap mereka tidak hanya memiliki kemampuan untuk berkarya, tetapi juga memiliki kepercayaan diri untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah selesai menjalani masa pidana,” lanjutnya.
Selain keterampilan teknis, kegiatan membatik juga menjadi bagian dari pembentukan karakter WBP. Proses tersebut membutuhkan ketelitian, kesabaran, kedisiplinan, kreativitas, serta tanggung jawab dalam menghasilkan sebuah karya. Lapas Kelas I Makassar berharap Sanggar Batik dapat dikembangkan secara berkelanjutan sehingga keterampilan yang diperoleh WBP tidak berhenti selama menjalani masa pidana, tetapi dapat terus dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat.
Pembukaan Sanggar Batik sekaligus memperkuat arah pembinaan pemasyarakatan yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga mendorong WBP memiliki kemandirian, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk menjalani kehidupan secara positif setelah menyelesaikan masa pidana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....