Sampah Organik Diolah Jadi Maggot, Pemkot Makassar dan Unhas Siapkan 50 Titik

  • 29 Sep 2026 13:52 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar — Pemerintah Kota Makassar membuka ruang kolaborasi dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) dalam pengembangan pengolahan sampah terintegrasi melalui Program Low Carbon Development Initiative-Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF). Kolaborasi tersebut diarahkan pada pemanfaatan sampah organik untuk budidaya maggot yang selanjutnya dapat diolah menjadi sumber protein pakan ternak, khususnya untuk pengembangan ayam Alope Unhas.

Hal itu dibahas dalam audiensi Fakultas Peternakan Unhas bersama Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Selasa 29 September 2026. Dekan Fakultas Peternakan Unhas, Prof. Dr. Syahdar Baba, mengatakan pengelolaan sampah organik masih menjadi persoalan yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

“Selama ini sampah itu masalah utama di Kota Makassar, apalagi yang organik. Maka kita butuh kolaborasi untuk pemilahan dan pengelolaan dengan baik,” ujarnya.

Menurut Syahdar, Unhas menawarkan model ekosistem yang mengintegrasikan pengelolaan sampah organik, budidaya maggot, hingga peternakan ayam Alope. Konsep tersebut menempatkan maggot sebagai salah satu sumber protein untuk mendukung kebutuhan pakan ayam Alope Unhas.

“Jadi, kami punya model ekosistem yang kami coba bangun, bagaimana mengelola sampah ini diintegrasikan dengan faktor-faktor yang lainnya,” katanya.

Syahdar menjelaskan, Unhas akan mengambil peran mulai dari sisi hulu hingga hilir. Pada tahap awal, Unhas menyiapkan baby maggot atau bibit maggot yang selanjutnya dibesarkan oleh kelompok masyarakat yang dibina Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Setelah maggot dibudidayakan, hasilnya akan diambil dan diolah Unhas menjadi bahan pakan. Unhas juga akan membantu memastikan pemanfaatan dan pemasaran hasil budidaya sehingga masyarakat memiliki kepastian terhadap hasil produksinya.

“Kami menawarkan Pak Wali bagaimana kalau ini dibikin ekosistemnya. Unhas menyiapkan pengolahannya, pengelolaan dan pemasaran maggotnya, pengolahannya sampai menjadi pakan, dan juga menyiapkan baby maggot,” jelasnya.

Ia menilai kepastian bibit dan pasar menjadi bagian penting dalam pengembangan budidaya maggot di masyarakat. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya diberikan pengetahuan mengenai budidaya maggot, tetapi juga membutuhkan dukungan dari sisi pasokan bibit dan pemanfaatan hasil produksi.

“Jangan orang bikin maggot semua, ternyata tidak ada yang beli. Pas mau dilanjutkan, tidak ada lagi tersedia bibitnya dan segala macam,” ungkapnya.

“Karena Unhas punya fungsi pendidikan dan segala macam, maka kami masuk di hulu dan hilirnya,” lanjut Syahdar.

Untuk tahap awal, program tersebut ditargetkan memiliki sedikitnya 50 titik percontohan di Kota Makassar. Penentuan lokasi akan dilakukan melalui asesmen oleh tim Unhas.

Pemerintah Kota Makassar nantinya akan memberikan sejumlah titik potensial untuk kemudian dikaji sebelum masuk tahap pelaksanaan. “Minimal 50. Nanti kami asesmen. Kalau Pak Wali sudah memberikan titik-titiknya, kami akan asesmen. Dari hasil asesmen itu baru kita coba eksekusi,” ujarnya.

Syahdar mengatakan konsep tersebut mengintegrasikan pengolahan maggot dengan sektor peternakan sehingga hasil budidaya dapat langsung diarahkan menjadi bahan pakan. “Kalau kita sudah terintegrasi dengan peternakan. Jadi tidak perlu lagi kita berpikir ke mana-mana, yang penting efisien, masuk menjadi pakan,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyatakan dukungannya terhadap kolaborasi Pemkot Makassar dan Unhas tersebut. Menurut Appi, pengembangan ekosistem pengolahan sampah organik melalui maggot diharapkan tidak hanya mengurangi beban sampah yang masuk ke sistem pengelolaan kota, tetapi juga menciptakan rantai ekonomi baru.

“Melalui pola ini, pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pengurangan volume sampah, tetapi dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem produktif yang melibatkan masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor peternakan,” kata Appi.

Kolaborasi tersebut selanjutnya akan diarahkan pada penentuan lokasi percontohan, asesmen, pembinaan kelompok masyarakat, hingga pengembangan rantai pemanfaatan maggot sebagai bahan pakan ternak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....