BMKG: Karhutla Masih Mengancam, Hujan Lebat Berpotensi di Sejumlah Wilayah
- 22 Sep 2026 12:28 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai sebaran asap dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi atmosfer yang relatif kering masih berlangsung, terutama di sebagian Sumatra dan Kalimantan, pada periode 22–28 September 2026.
Dilansir dari bmkg.go.id. BMKG mencatat jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih cukup signifikan dalam 10 hari terakhir. Hingga 21 September 2026, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi, yakni 5.283 titik. Selanjutnya Sumatera Selatan 1.485 titik, Kalimantan Barat 1.357 titik, Kalimantan Selatan 498 titik, dan Kalimantan Timur 433 titik.
Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan laporan kejadian karhutla di sejumlah wilayah, antara lain Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur, Papua Tengah, dan Kepulauan Bangka Belitung.
Di tengah kondisi yang relatif kering, hujan dengan intensitas lebat masih berpotensi terjadi secara lokal. Pada 18–20 September 2026, hujan lebat tercatat di Sumatera Barat mencapai 75 milimeter per hari, Kalimantan Barat 70 milimeter per hari, Jawa Barat 58 milimeter per hari, dan Kalimantan Utara 53 milimeter per hari.
BMKG menjelaskan, hujan tersebut dipengaruhi kombinasi aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial, suhu muka laut yang relatif hangat di sejumlah perairan, serta terbentuknya daerah pertemuan dan perlambatan angin. Kondisi itu meningkatkan suplai uap air dan mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah.
Dinamika Atmosfer
BMKG memprakirakan kondisi iklim global masih menunjukkan El Niño kategori sangat kuat. Nilai SOI tercatat -20,3 dan indeks NINO3.4 sebesar +2,51. Kondisi tersebut secara umum berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.
Sementara itu, nilai rata-rata mingguan Dipole Mode Index (DMI) sebesar +0,7 menunjukkan dominasi massa udara di Samudra Hindia yang bergerak menjauhi wilayah Indonesia. Kondisi ini berpotensi mengurangi suplai uap air, khususnya di Indonesia bagian barat.
Pada akhir September hingga awal Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–150 milimeter per dasarian. Curah hujan rendah diprakirakan masih mendominasi sebagian Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua.
Meski demikian, sejumlah dinamika atmosfer regional masih berpotensi meningkatkan aktivitas pembentukan awan hujan. Pada 22–23 September, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan melintasi sebagian besar Sumatra. Gelombang Rossby Ekuatorial juga diprediksi aktif di sebagian besar Kalimantan dan perairan sekitarnya.
Sirkulasi siklonik juga diprakirakan terbentuk di Laut Cina Selatan sebelah timur Vietnam serta Samudra Pasifik timur Filipina dan utara Papua. Kondisi tersebut dapat membentuk daerah perlambatan dan pertemuan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan Utara, dan Papua.
Potensi Hujan 22–24 September
Pada 22–24 September 2026, cuaca di Indonesia umumnya diprakirakan cerah berawan hingga hujan ringan. Peningkatan hujan dengan intensitas sedang perlu diwaspadai di Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
BMKG juga menetapkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat dengan status Siaga di Sumatera Utara. Potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua Selatan.
Potensi Hujan 25–28 September
Pada 25–28 September 2026, kondisi cuaca umumnya masih didominasi cerah berawan hingga hujan ringan. Hujan dengan intensitas sedang berpotensi meningkat di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Untuk periode tersebut, BMKG tidak mencatat wilayah dengan kategori Siaga untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Namun, potensi angin kencang masih perlu diwaspadai di Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan.
BMKG mengimbau masyarakat tetap mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering selama musim kemarau. Masyarakat disarankan menjaga kecukupan cairan tubuh, menggunakan tabir surya, serta mengurangi paparan langsung sinar matahari, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan serta karhutla. BMKG mengingatkan agar masyarakat tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan.
Di sisi lain, hujan ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. Masyarakat diminta tetap mewaspadai kemungkinan genangan, longsoran material, dan sambaran petir yang dapat menyertai kondisi tersebut.
https://www.bmkg.go.id/cuaca/potensi-hujan-sepekan/prakiraan-cuaca-indonesia-sepekan-periode-22-28-september-2026-sebaran-asap-dan-karhutla-masih-menjadi-perhatian-hujan-lebat-masih-terjadi-di-sejumlah-wilayah
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....