Kisah Perjalanan Minyak Cahaya Berawal dari Modal Kecil
- 20 Sep 2026 20:25 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Perjalanan usaha Minyak Cahaya berawal dari produk minyak herbal yang telah dirintis sejak 2010. Sebelum menggunakan nama Minyak Cahaya, produk tersebut dikenal dengan nama Minyak Angin Mamiri. Hal tersebut di katakan Safaruddin - Owner CV Cahaya Insaf Mandiri dalam Obrolan Teras UMKM Pro4 RRI Makassar.
Safar, menjelaskan bahwa pemberian nama Minyak Angin Mamiri pada awalnya bertujuan untuk mengangkat nama daerah. Menurutnya, nama tersebut dipilih sebagai identitas lokal di tengah banyaknya produk minyak dari daerah lain yang menggunakan berbagai nama. “Dulu namanya Minyak Angin Mamiri. Kami memberikan nama tersebut untuk mengangkat nama daerah”, ujar Safar. Sabtu, 19 September 2026.
Safar mengungkapkan, produk tersebut diracik oleh salah seorang seniornya, Haji Ishak Malik, yang merupakan alumni salah satu perguruan tinggi di Makassar. Produk yang pada awalnya dikenal sebagai minyak rukiah tersebut kemudian mengalami perubahan nama menjadi Minyak Cahaya pada 2018.
“Perubahan tersebut bermula ketika saya bertemu dengan Haji Ishak Malik di sebuah warung kopi. Dalam pertemuan itu, senior saya Haji Ishak Malik memperkenalkan produk minyak yang diraciknya sendiri dan mengajak saya untuk melihat potensi produk lokal yang memiliki kualitas dan dapat dikembangkan lebih luas”, ucap Safar.
Menurut Safar, perbincangan tersebut membuka pemikirannya mengenai peluang produk berbahan lokal. Indonesia dinilai memiliki kekayaan rempah dan bahan alam yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. “Saya kemudian diberikan beberapa botol untuk dicoba dan diperkenalkan kepada orang lain,” katanya.
Salah satu pengalaman yang membuat Safar semakin yakin untuk mengembangkan produk tersebut terjadi ketika istrinya mengalami sakit perut. Safar kemudian meminta istrinya mencoba minyak yang diberikan oleh seniornya.
Menurut Safar, setelah digunakan, istrinya merasa lebih nyaman. Istrinya yang bekerja sebagai apoteker kemudian melihat kandungan bahan yang terdapat dalam minyak tersebut, di antaranya serai, cengkeh, minyak zaitun, bidara, dan habbatussauda. Pengalaman tersebut mendorong Safar untuk memperkenalkan produk secara lebih luas.
Safar juga menceritakan pengalaman ketika memberikan minyak tersebut kepada salah seorang seniornya yang sedang dalam masa pemulihan setelah menjalani operasi. Produk itu diberikan secara cuma-cuma untuk dicoba. “Setelah dicoba, beliau kemudian menghubungi saya dan meminta beberapa botol lagi,” tuturnya.
Berbagai pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan Safar dalam mengembangkan Minyak Cahaya. Ia mulai melihat adanya peluang untuk menjadikan produk tersebut sebagai usaha yang dapat memberikan manfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....