Mimbar Agama Konghucu bahas Bagimana Menjalankan Kebenaran dengan Bijaksana
- 06 Sep 2026 13:40 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar – Menjalankan kebenaran tidak cukup hanya dengan mengetahui mana yang benar dan salah. Dalam ajaran Konghucu, kebenaran perlu dijalankan dengan cinta kasih dan kebijaksanaan agar tidak justru melukai orang lain atau menimbulkan persoalan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam program Mimbar Agama Konghucu RRI, Sabtu, 5 September 2026, dengan tema “Menjalankan Kebenaran dengan Bijaksana”. Program tersebut menghadirkan Js. dr. Erwiani, Sp.KJ sebagai narasumber utama.
Js. dr. Erwiani menjelaskan, menjalankan kebenaran secara bijaksana merupakan bagian dari lima kebajikan dalam ajaran Konghucu. Ia kemudian mengangkat kisah Yenhui, salah satu murid Nabi Kongzi, yang terlibat dalam perdebatan mengenai perhitungan matematika. Kisah tersebut menggambarkan bagaimana mempertahankan sesuatu yang dianggap benar secara kaku dapat membawa seseorang pada persoalan yang lebih besar.
Dari kisah tersebut, menurut Js. dr. Erwiani, seseorang perlu memahami bahwa kebenaran tidak semestinya dijalankan hanya berdasarkan ego atau keinginan untuk memenangkan perdebatan. “Kebenaran harus dijalankan dengan landasan cinta kasih dan kebijaksanaan agar tercipta harmonisasi di masyarakat,” jelasnya.
Makna tersebut juga relevan dengan kehidupan sehari-hari. Perbedaan pendapat merupakan hal yang tidak dapat dihindari, baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial. Ketika seseorang terlalu memaksakan apa yang dianggapnya benar tanpa mempertimbangkan kondisi dan perasaan orang lain, persoalan justru dapat berkembang menjadi konflik.
Js. dr. Erwiani juga mengaitkan nilai tersebut dengan pengalaman klinisnya ketika menghadapi orang tua yang mengalami penurunan fungsi kognitif atau pikun. “Dalam kondisi seperti itu, menghadapi seseorang tidak selalu harus dengan memaksakan fakta yang dianggap benar. Empati dan pemahaman terhadap kondisi psikologis orang tersebut justru menjadi hal yang lebih penting,” tambahnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kebijaksanaan membutuhkan kemampuan melihat persoalan dari sudut pandang orang lain. Menyampaikan kebenaran tetap penting, namun cara, waktu dan kondisi orang yang menerima kebenaran juga perlu dipertimbangkan agar pesan yang disampaikan tidak berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Menutup pembahasannya, Js. dr. Erwiani mengingatkan bahwa kebajikan yang bercahaya berawal dari hati yang tulus dan kemampuan melihat kebaikan dalam diri orang lain. Karena itu, menjalankan kebenaran dengan bijaksana bukan hanya tentang mempertahankan apa yang benar, tetapi juga bagaimana kebenaran tersebut dapat menghadirkan cinta kasih, kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....