Panduan Ringkas Edukasi Thaharah, Salat Istisqa, dan Mandi Junub

  • 13 Sep 2026 08:46 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Pemahaman mengenai tata cara ibadah yang sesuai dengan tuntunan sunah Nabi Muhammad SAW masih menjadi topik yang krusial bagi umat Muslim. Banyak di antara masyarakat yang belum memahami secara menyeluruh teknis pelaksanaan ibadah tertentu, mulai dari salat minta hujan hingga tata cara bersuci dari hadas besar.

Menjawab hal tersebut, Anggota Komisi Fatwa MUI Sulawesi Selatan, Ustaz Yusri Muhammad Arsyad, mengulas panduan praktis ibadah tersebut DALAM Program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Makassar. Mengenai salat Istisqa atau salat memohon hujan, Ustaz Yusri menegaskan bahwa ibadah ini memiliki ketentuan khusus yang tidak bisa dilaksanakan secara individu. Pelaksanaan salat Istisqa harus dilakukan secara berjamaah dan disunahkan berlokasi di tanah lapang.

“Mengenai salat Istisqa, ini adalah ketika kita butuh hujan dan minta kepada Allah SWT. Caranya itu adalah harus berjamaah, tidak sah kalau tidak berjamaah. Dan ini dilakukan paling bagus di lapangan, bukan di masjid,” terang Ustaz Yusri. Minggu, 13 September 2026.

Dalam pelaksanaan salat Istisqa di lapangan, jamaah diajarkan untuk menunjukkan rasa kerendahan hati dan kepasrahan yang mendalam di hadapan Sang Pencipta. Jamaah bahkan dianjurkan memakai pakaian yang sederhana dan diperbolehkan membawa hewan ternak sebagai bentuk bertawasul memohon rahmat Allah.

“Usahakan yang datang bawa binatang peliharaan seperti sapi atau ayam untuk bertawasul bahwa yang butuh air bukan hanya manusia. Jangan pakai baju bagus, pakailah baju yang sederhana untuk memperlihatkan kepasrahan kita di hadapan Allah,” tutur Ustaz Yusri.

Selain salat Istisqa, Ustaz Yusri juga memberikan panduan terperinci mengenai tata cara bersuci dari hadas besar atau mandi junub. Langkah pertama yang wajib dilakukan sebelum mandi adalah membersihkan seluruh najis yang menempel pada tubuh serta berwudhu.

Proses penyiraman air saat mandi junub dimulai dari bagian tubuh sebelah kanan, dilanjutkan ke sebelah kiri, dan kemudian bagian kepala. Niat mandi junub dilafalkan tepat saat air pertama kali menyentuh atau membasahi anggota badan.

“Pertama-tama yang disiram adalah bahu kanan, kemudian disiram lagi bahu kirinya. Pada saat air menyentuh bahu kanan, di situlah kita mulai niat mengangkat hadas besar karena Allah,” jelas Akademisi UMI Makassar tersebut.

Ustaz Yusri mengingatkan agar seluruh anggota tubuh dan helai rambut dipastikan basah dan terkena air secara merata. Hal ini menjadi perhatian penting, terutama bagi wanita yang memiliki rambut panjang agar tidak ada bagian yang terlewatkan dari basahan air mandi junub.

Sebagai penutup, Ustaz Yusri menekankan pentingnya menjaga wudhu saat proses mandi junub berlangsung. Apabila seseorang menyentuh kemaluan tanpa alas setelah atau saat mandi, maka ia diwajibkan untuk mengulangi wudunya sebelum melaksanakan salat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....