Perahu Pinisi, Warisan Budaya yang Sarat Filosofi Kehidupan

  • 08 Sep 2026 21:52 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Perahu Pinisi bukan sekadar karya maritim masyarakat Makassar dan Bugis, tetapi juga merupakan warisan budaya yang memiliki nilai filosofi kehidupan yang mendalam. Warisan tersebut mencerminkan hubungan manusia dengan alam, sesama manusia, serta Sang Pencipta. Hal tersebut di katakan Dr. Dafirah, M.Hum. (Dosen Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya (UNHAS)) dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar, edisi Senin 7 September 2026.

Dr. Dafirah menjelaskan Filosofi yang terkandung dalam perahu Pinisi mencakup tiga nilai utama, yakni ketangguhan, gotong royong, dan keharmonisan dengan alam semesta. Nilai-nilai tersebut menjadi gambaran bagaimana masyarakat pada masa lalu mampu menghasilkan karya monumental dengan mengandalkan pengetahuan lokal, kedalaman jiwa, pengalaman, serta solidaritas, meskipun memiliki keterbatasan teknologi.

“Mulai dari proses pencarian dan pemilihan kayu hingga pembuatan dan peluncuran perahu, setiap tahapan pembuatan Pinisi sarat dengan simbol dan makna. Para leluhur masyarakat Bugis-Makassar pada masa lalu belum mengenal pendidikan formal hingga jenjang sarjana, magister, maupun doktor. Namun, melalui pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun, keseimbangan dengan lingkungan, serta hubungan dengan Sang Pencipta, mereka mampu menciptakan perahu yang memiliki nilai budaya dan teknologi tinggi”, kata Dr. Dafirah.

Dr. Dafirah menambahkan keberadaan Pinisi kini telah dikenal secara luas hingga tingkat internasional. Perahu Pinisi telah diakui UNESCO sebagai bagian dari warisan budaya takbenda dunia. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan dan tradisi pembuatan Pinisi merupakan warisan budaya yang memiliki nilai penting bagi masyarakat dunia.

“Salah satu nilai utama yang terkandung dalam perahu Pinisi adalah ketangguhan. Karakter tangguh yang selama ini melekat pada masyarakat Bugis-Makassar juga tercermin dalam proses pembuatan perahu tersebut”, jelas Dafirah.

Lebih lanjut Dr. Dafirah menambahkan ketangguhan terlihat sejak proses pemilihan dan penyortiran kayu hingga perakitan perahu. Pada masa lalu, para pembuat Pinisi tidak menggunakan teknologi modern seperti yang tersedia saat ini. Mereka hanya mengandalkan peralatan sederhana dan sebagian besar berbahan kayu.

“Proses pembuatan juga dilakukan tanpa alat ukur modern. Para panrita lopi, atau ahli pembuat perahu, mengandalkan pengalaman, intuisi, pengetahuan lokal, dan naluri dalam menentukan ukuran serta bentuk perahu”, ungkap Dr. Dafirah.

Menurut Dr. Dafirah kondisi tersebut memberikan pesan moral bahwa ketangguhan seseorang terbentuk melalui proses menempa diri dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Seperti halnya sebuah perahu yang tetap berlayar menghadapi badai dan perubahan arah angin, manusia juga dituntut untuk tetap teguh meskipun menghadapi berbagai rintangan.

“Filosofi tersebut mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berusaha. Sebaliknya, keterbatasan dapat mendorong seseorang untuk mengembangkan pengetahuan, pengalaman, kreativitas, dan kemampuan dalam menghadapi tantangan”, tutup Dr. Dafirah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....