Film Horor Lokal Diminati Banyak Orang

  • 08 Sep 2026 17:39 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID Makassar- Film horor lokal masih menjadi salah satu genre yang mendominasi layar bioskop Indonesia sepanjang 2026. Menariknya, banyak film horor yang tidak hanya menawarkan ketegangan dan jumpscare, tetapi juga mengangkat mitos, legenda, tradisi, hingga kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat Nusantara.

Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam Program Apresiasi Budaya Lokal, Minggu, 6 September 2026, di Pro 4 RRI Makassar, dengan narasumber Ilham Anwar, aktor sekaligus Pengurus BPP KKSS Departemen Seni Budaya, serta Ir. Fachrul Muchsen atau Kak Arul Ambo' Nai, pengamat film sekaligus penggagas Demi Film Indonesia.

Sejumlah film horor Indonesia belakangan ini memang semakin berani menggali cerita dari kekayaan budaya lokal. Unsur mitos dan folklor bahkan menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan cerita yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.

Data pemberitaan perfilman sepanjang 2026 menunjukkan genre horor masih kuat di bioskop Indonesia. Sejumlah film mengangkat cerita yang bersumber dari mitos, legenda daerah, ritual, hingga kepercayaan masyarakat.

Menurut Ilham Anwar, daya tarik horor yang berbasis tradisi dan mitos Nusantara salah satunya terletak pada kedekatan cerita dengan masyarakat. Mitos yang selama ini hanya didengar melalui cerita orang tua, lingkungan keluarga, atau masyarakat setempat kemudian divisualisasikan ke dalam bentuk film sehingga menghadirkan rasa penasaran sekaligus pengalaman emosional bagi penonton.

"Horor berbasis budaya juga memiliki kekuatan karena tidak hanya berbicara mengenai sosok gaib atau teror, tetapi membawa identitas dan cerita dari suatu daerah. Hal tersebut membuat penonton seolah menemukan kembali cerita yang sudah familiar, namun dikemas dengan sudut pandang sinematik yang lebih modern, " Ujar Ilham.

Sementara itu, Ir. Fachrul Muchsen atau Kak Arul Ambo' Nai melihat tren tersebut sebagai peluang besar bagi perkembangan perfilman Indonesia. Kekayaan budaya Nusantara memiliki begitu banyak cerita yang belum seluruhnya diangkat ke layar lebar.

Menurutnya, mitos dan tradisi lokal dapat menjadi sumber inspirasi yang kuat bagi sineas Indonesia, terutama jika dikembangkan melalui riset budaya dan pengolahan cerita yang baik.

"Film horor tidak hanya mengejar efek menakutkan, tetapi juga mampu menyampaikan nilai budaya kepada penonton.

Fenomena tersebut terlihat dari munculnya sejumlah film yang menggali folklor dari berbagai daerah. Misalnya, Songko mengangkat legenda masyarakat Minahasa, sementara Suanggi: Ilmu Kutukan mengambil inspirasi dari warisan budaya lisan masyarakat Indonesia Timur, ungkap Fachrul.

Bagi masyarakat Indonesia yang tumbuh dengan beragam cerita rakyat, pantangan, ritual, dan legenda, horor berbasis tradisi memiliki daya tarik tersendiri. Penonton tidak hanya dibuat takut, tetapi juga diajak bertanya mengenai asal-usul sebuah mitos, makna sebuah tradisi, serta bagaimana cerita tersebut berkembang di tengah masyarakat.

Tren ini sekaligus menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi karya kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing. Cerita dari daerah yang sebelumnya hanya berkembang secara lisan dapat memperoleh ruang lebih luas melalui film dan menjangkau generasi muda.

Namun, pengangkatan tradisi dan mitos ke dalam film juga membutuhkan tanggung jawab. Kreativitas sineas perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap budaya yang diangkat agar tidak terjadi penyederhanaan, penyimpangan, maupun penggambaran yang dapat merugikan kelompok atau masyarakat tertentu.

Dengan semakin banyaknya film horor yang menggali kekayaan tradisi Nusantara, layar lebar tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga dapat menjadi media untuk memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia.

Bagi Ilham Anwar dan Fachrul Muchsen, fenomena tersebut menjadi momentum untuk melihat budaya Nusantara bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi karya kreatif masa kini. Horor lokal pun akhirnya tidak sekadar menghadirkan rasa takut, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal kembali kekayaan cerita dan identitas budaya Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....