Gerak Tubuh Lansia Hidupkan Memori dan Nilai Budaya

  • 14 Sep 2026 20:15 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Konsep koreografi pada pertunjukan Jejak Budaya dalam Memori Tubuh Lansia berbeda dari pertunjukan tari pada umumnya. Dalam karya ini, gerakan tidak sepenuhnya ditentukan oleh koreografer, tetapi berasal dari pengalaman dan ekspresi tubuh para lansia yang terlibat dalam pertunjukan. Hal tersebut di katakan Ariyanti Sultan, S.Sn., M.Sn - Dosen Isbi SulSel dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar, edisi Minggu, 13 September 2026

Ariyanti atau biasa disapa Rara, mengatakan dirinya bekerja sama dengan koreografer Nurul Inayah, dosen Universitas Muhammadiyah (Unismuh), untuk merangkai gerakan yang dihasilkan oleh para lansia. Menurutnya, setiap gerakan yang muncul dari tubuh para lansia menjadi bagian penting dalam penyusunan koreografi.

“Meskipun dalam konteks koreografi tetap ada struktur yang kami susun, gerak-geraknya berasal dari para lansia sendiri. Apa yang mereka ciptakan dan hasilkan dari tubuhnya itulah yang kami rangkai”, ujar Rara.

Konsep tersebut sekaligus menjadi pembeda dari metode koreografi yang umumnya menempatkan koreografer sebagai pencipta gerakan yang kemudian ditirukan oleh penari. Dalam pertunjukan ini, prosesnya justru dibalik. Para lansia diberi ruang untuk menciptakan gerakan berdasarkan pengalaman, ingatan, dan perasaan masing-masing.

Selain mengeksplorasi pengalaman personal, pertunjukan tersebut juga mengangkat sejumlah nilai budaya yang tumbuh dalam proses kebersamaan para lansia. Nilai kebersamaan, kerja sama, dan gotong royong menjadi bagian yang ingin ditampilkan melalui interaksi antar pemain.

Rara menjelaskan, proses yang melibatkan sekitar 10 orang lansia membutuhkan interaksi dan kerja sama yang cukup panjang. Karena itu, nilai budaya masyarakat Sulawesi Selatan seperti sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge turut menjadi landasan dalam proses penciptaan karya.

“Ketika berkumpul dalam 10 orang dan menjalani proses yang cukup panjang, tentu membutuhkan interaksi. Dalam interaksi tersebut, kami berpijak pada nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge dalam menciptakan sebuah pertunjukan seni,” jelasnya.

Untuk menggali memori dan pengalaman budaya para lansia, proses latihan diawali dengan olah tubuh, olah napas, dan relaksasi. Selanjutnya, para lansia diberikan berbagai stimulus untuk membangkitkan ingatan yang tersimpan dalam pikiran maupun tubuh mereka. Stimulus tersebut dapat berupa kalimat, musik, maupun tayangan visual. Musik yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, misalnya, dapat membantu seseorang mengingat kembali pengalaman pada masa lalu. Ingatan tersebut kemudian diekspresikan melalui gerakan tubuh.

Selain musik, para lansia juga diperlihatkan tayangan mengenai alam yang diharapkan dapat memunculkan kenangan tertentu. Dari proses tersebut, mereka kemudian dapat menceritakan pengalaman yang pernah dialami, termasuk keterlibatan dalam ritual atau kegiatan budaya di masa lalu.

“Para lansia diberikan kebebasan untuk mengekspresikan diri melalui berbagai bentuk seni. Tidak hanya bergerak, beberapa di antaranya memilih untuk bernyanyi, membaca puisi, bahkan menampilkan ekspresi seperti kemarahan, ketakutan, maupun pengalaman traumatis yang pernah dialami”, ucap Rara.

Pertunjukan utama tersebut diperkirakan berlangsung selama sekitar 20 menit. Sebelum pertunjukan dimulai, penonton akan disuguhkan penampilan pembuka dari komunitas seni Kerabat Performance yang terdiri atas dua orang. Komunitas tersebut juga akan terlibat dalam bagian ketiga pertunjukan bersama para lansia.

Melalui konsep tersebut, pertunjukan “Jejak Budaya dalam Memori Tubuh Lansia” tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga menjadi wadah bagi para lansia untuk mengenang, mengolah, dan mengekspresikan pengalaman hidup serta nilai-nilai budaya yang masih tersimpan dalam diri mereka. Tutup Rara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....